
the real power
benar salah ku pun lakukan…
(Superman is dead,Bukan Pahlawan)
Dalam bukunya Helden en Helden Vereeing, Thomas Carlyle memaparkan berbagai jenis-jenis pahlawan. Bagi Carlyle pahlawan di posisikan sebagai sumber dari segala perubahan. Pahlawan adalah manusia besar yang mengubah sejarah umat manusia. Menurut dia yang menganut the great man theory, Muhammad adalah sosok pahlawan. Demikian juga Karl Marx, Ernesto “Che” Guevara di Amerika Latin,dan Kemal attaturk di Turki, maupun Mao Zedong di Cina.
Itu menurut Thomas Carlyle, bagai mana menurut kalian?. Dalam presepsi masyarakat, pahlawan tidak pernah lepas dari sosok orang yang sangat berjasa terhadap negara, atau yang lebih spesifik lagi, yaitu pejuang negara di medan perang. Kalau dengan presepsi tersebut, wajar terbentuk berbagai macam pahlawan dalam sejarah Indonesia. Semacam, pahlawan kemerdekaan, pahlawan Revolusi, pahlawan nasional.
Lain lagi dalam pandangan anak-anak kacil. Apabila di lontarkan pertanyaan mengenai apa itu pahlawan, tentu mereka akan menjawab bahwa, pahlawan adalah orang yang dengan berani membela kebenaran melawan orang jahat yang mencoba menguasai bumi. Seperti power ranger, kesatria baja hitam, kinikuman, ultraman, dan lain sebagainya. Dan masih banyak lagi macam maupun pandangan mengenai pahlawan. Bahkan, embel-embel pahlawan bisa menjadikan nama lain dari profesi seseorang. Misalnya, pahlawan tanpa tanda jasa (guru), pahlawan devisa (TKW), pahlawan keluarga (Ayah), atau pahlawan kesiangan (orang yang terlambat memberikan pertolongan).
Sedangkan kalau di kaji lebih lanjut, ternyata kata “pahlawan” adalah bermakna orang yang berpahala. Kata ini di ambil dari kata pahalawan yang kemudian agar mudah menyebutnya menjadi pahlawan. Mungkin pemberian nama pahalawan tersebut, karena masyarakat melihat sosok orang yang berjuang membela kebenaran adalah orang yang mendapatkan pahala atas perjuangannya. Sedangkan, banyak sekali yang mendapatkan gelar pahlawan di bumi ini tanpa jelas kebenaran perjuangan yang di lakukan orang tersebut. Sebagai contoh, Amerika menganggap orang yang membumi hanguskan negri-negri islam dengan dalih pemberantasan teroris sebagai pahlawan. Para mahasiswa yang tewas karena tragedi Mei 1998 di anggap sebagai pahlawan. Tanpa melihat keadaan dan maksud dari aksi pada saat itu. Tentara yang berjuang di medan perang mati-matian demi mempertahankan batas negaranya di sebut sebagai pahlawan. Soekarno yang berhasil memerdekakan Indonesia, dengan menghapus tujuh kata sakral dalam Pancasila yang terang-terangan menghianati Islam, di anggap sebagai pahlawan. Kemal Attaturk yang meproklamirkan berdirinya negara Turki,dengan sebelumnya dia meruntuhkan Khilafah Islamiyah, di anggap rakyat turki sebagai pahlawan. Dan masih banyak contoh-contoh lain para tokoh yang belum tentu pantas mendapat gelar pahlawan.
Memang benar, tokoh-tokoh tersebut akan di anggap pahlawan bagi orang yang merasa sejahtera karenannya. Sebaliknya, tokoh-tokoh tersebut bisa pula di anggap penghianat, pemberontak, penyerang, maupun ‘biang kerok’ di lain sisi. Yaitu sisi dimana merasa di rugikan karena kehadiran atau perjuangannya.
Jadi, semua itu kembali pada individu masing-masing untuk mempresepsikan benar tidaknya tindakan yang di lakukan pahlawan tersebut. Dan tentu saja itu akan berbeda, karena otak, cara pandang, pengalaman , dan tolak ukur perbuatan setiap orang berbeda.
Namun,tidak akan adil apabila semua itu di sandarkan hanya kepada presepsi individu semata. Maka, pandangan terhadap sosok pahlawan harus di lihat dari segi apa yang di perjuangkannya. Apabila seluruhnya di katakan memperjuangkan kebenaran… Lalu, kebenaran yang seperti apakah?. Apa yang di maksud kebenaran? Kebenaran mana yang hakiki? Apakah pantas orang yang tidak melakukan kebenaran yang hakiki dan kebenaran yang bersumber dari Sang Pencipta, mendapatkan pahala. Sehingga bergelar pahalawan?.
Untuk menilai seseorang dari sudut pandang pahala yang ada pada dirinya, tentu sesuatu yang sulit di jangkau oleh manusia. Sebab yang memberikan dan menentukan pahala hanyalah Sang Pencipta manusia itu semata. Dan pula Sang Pencipta-lah yang telah memberikan kepada manusia berbagai pedoman dan petunjuk, yang kita gunakan sebagai cara agar dapat menuju pada hakikat kepahlawanan itu sendiri.
Pada hakikatnya, kepahlawanan itu sendiri merupakan perbuatan yang menunjukan sifat seorang pahlawan seperti keberanian, pengorbanan, kesetiaan,dll. Dalam Islam yang merupakan satu-satunya agama yang benar di Jagad Raya ini, gelar kepahlawanan tidak cukup hanya mengacu pada definisi di atas. Harus di lengkapi dengan dua syarat mutlak. Yaitu, niat ikhlas karena Tuhan Sang pengatur kehidupan, dan caranya seperti yang di contohkan oleh Muhammad Sang Rasul Pembawa ajaran Islam, dan teladan paling baik sepanjang masa.
Ikhlas dalam artian, perjuangan yang di lakukan hanya karena Sang Pencipta semata. Jadi, segala keberanian, pengorbanan, atau kesetiaannya tidak di persembahkan untuk memperoleh tanda jasa, materi, pujian maupun pengakuan masyarakat. Apalagi di niatkan demi negara , tanah airnya, suku, atau pun rasnya (’ashabiyyah) yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan Islam.
Berjuang untuk kemerdekaan negrinya dalam konteks ‘ashabiyyah (nasionalisme, sukuisme,rasisme,dll.),memperjuangkan demokrasi dan HAM, dan pemikiran di luar islam lainnya, itu pun tidak layak masuk dalam perbuatan seorang pahlawan. Karena tidak sesuai dengan ajaran yang di contohkan Muhammad.
Seorang kawan yang tergila-gila dengan sebuah kata pahlawan, pernah mengutip kata-kata Anis Matta yang kemudian selalu di katakannya. Anis matta mengungkapkan ; ‘pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan’. Jadi, seorang pahlawan yang benar-benar menjiwai sikap kepahlawanan, tak akan pernah melepaskan saat-saat atau momen di mana sikap kepahlawanannya harus di tampilkan. Saat di butuhkan, seorang pahlawan akan terjun melakukan aksinya. Namun, tetap terjaga dari prinsip-prinsip kepahlawanannya.
Sebenarnya di saat yang merumitkan sekarang ini, sosok kepahlawanan yang dapat memberikan pencerahan sangat di butuhkan. Momen-momen terbuka dan berhamburan. Seluruhnya termasuk dalam kategori masalah yang mengaharuskan pembebasan oleh seorang tokoh pahlawan. Mungkin pahlawan harus tampil persis layaknya super hero-super hero kondang di televisi. Dimana ada momen yang mengharuskan super hero datang menolong, maka dengan gesit super hero itu terjun langsung ke lapangan menjalankan tugasnya. Contoh saja superman yang dapat langsung datang memberikan bantuan secepat kilat ketika ia di butuhkan. Atau, Peter Parker yang sudah bersiap-siap lebih dahulu memakai kostum spidermannya di lapisan dalam bajunya, agar dengan cepat ia dapat beraksi menolong orang.
Mereka, (super hero) dapat melakukan hal tersebut di karenakan mengembangkan kepekaan insting kepahlawanannya, selain pula mereka sadar bahwa itu wajib dilakukan sebagai sosok pahlawan. Karena mereka mengerti, di saat yang genting mungkin tak akan ada orang yang dapat meredakannya selain mereka. Walaupun ada pihak lain yang dapat meredakannya, namun kontribusi apa yang bisa mereka berikan pada saat itu. Layakkah sosok pahlawan berdiam diri pada saat tersebut?. Dengan membutakan seluruh indra, dan tanpa melakukan tindakan pasti.
Imam khomeini pernah berkata : orang yang diam melihat penindasan, adalah lebih kejam dari penindas itu sendiri. Tentunya perkataan Khomeini tersebut bisa di katakan benar. Orang yang tak bergetar hati dan jiwanya ketika penindasan di lakukan di depan matannya, sama saja dengan penindas itu sendiri. Bahkan bisa di katakan lebih kejam karena ia membiarkan saja hal itu di lakukan padahal ia mengerti bahwa hal itu tak layak di lakukan. Berarti orang tersebut pelit memberikan bantuannya, yang sebenarnya wajib ia berikan saat itu. Mengapa di katakan lebih kejam dari pada penindas itu sendiri?. Itu karena perbandingan sikap yang berbeda. Bisa jadi sang penindas melakukannya karena sebab balas dendam, ataupun karena pada saat perang, selain pula karena penindas tersebut tidak mengerti hal yang di lakukannya itu salah. Maka bisa kita katakan hal itu wajar. Sedangkan, orang yang diam melihat penindasan, tidak bisa di bilang wajar. Karena ia mengerti hal itu salah untuk di lakukan.
Rasulullah (Muhammad) pun pernah jua bersabda : ‘apabila kamu melihat kemungkaran, maka lawanlah dengan kekuasaanmu, apabila kamu tidak mampu maka dengan lisanmu, apabila tidak mampu maka dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman.’ Dari perkataan rasulullah tadi, bisa di katakan rasulullah ingin semua umatnya memiliki sikap kepahlawanan. Yaitu dengan mengharuskan umatnya memiliki sikap pemberontakan terhadap kemunkaran. Lalu melakukan tindakan pasti, agar kemungkaran itu dapat hilang dengan perlawanan atau perjuangan yang melawannya. Bahkan, apa bila tidak maka konsekuensinya orang tersebut di cap beriman lemah, yang cap tersebut bahkan lebih baik berbadan lemah daripada beriman lemah.
Sekarang, potensi apakah yang bisa membuat kita menjadi sosok pahlawan?. Perlukah memiliki berbadan seperti Clark Kent dahulu agar bisa menjadi pahlawan?. Atau otak seperti Einstein agar bisa di sebut pahlawan?
Menjadi pahlawan harus kita lakukan. Namun, jalan untuk menjadi pahlawan bisa dari berbagai cara. Sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Apabila diantara kalian ada yang lihai berorasi, gunakanlah potensi tersebut untuk meng-orasikan perjuangan kebenaran ke masyarakat luas. Apabila ada yang lihai menulis, tulislah hal-hal yang mengacu pada perubahan ke arah yang lebih baik. Apabila ada yang dapat berpikir dengan jenius, gunakanlah otak jenius tersebut untuk memikirkan bagaimana mensejahterakan masyarakat luas. Atau ada yang memiliki kemampuan beladiri dengan baik, maka gunakan untuk membela kaum yang tertindas. Maka kalian semua layak di sebut sebagai pahlawan. Asal tidak keluar dari nilai-nilai dasar islam.yang merupakan tolak ukur baik buruknya seluruh perbuatan.
Pahlawan juga selalu siap setiap saat. Sebab, kebenaran harus selalu di lakukan dan jangan di tunda. Kini, momen untuk melakukan aksi-aksi kepahlawanan sangat banyak. Terlihat di semua lini kehidupan kemasyarakatan hingga kemancanegaraan. Dimana ketertindasan terjadi, sosok pahlawan jarang yang terlihat muncul di sana. Bahkan malah sebaliknya sosok pecundang tanpa malu berkeliaran di puing-puing penindasan. Mereka menutup mata, seraya terus-terusan memikirkan perut dan kantong mereka sendiri. Sedangkan banyak orang yang terindas (secara fisik maupun pemikiran) yang berharap dari pecundang tersebut. Setidaknya pecundang tersebut berubah bersikap kepahlawanan.
Televisi menjadi sosok pecundang besar-besaran ketika tidak memperdulikan orang yang ‘kekurangan’, padahal televisi tersebut dapat membagi-bagikan uang 2 milyar setiap minggunya melalui acara kuis-kuisnya. Pemerintah menjadi sosok pecundang yang terstruktural, ketika kekuasaan untuk menyantuni rakyatnya yang ’sekarat’ malah di nonaktivkannya atau tidak semaksimal mungkin di berikan. (Bahkan pemerintah malahan tunduk pada pihak asing yang merugikan rakyatnya dengan eksploitasinya.) Dan juga kita menjadi pecundang apabila setelah mengerti itu semua, malahan tidak melakukan apa-apa sama sekali, atau malah memperparahnya.
Mungkin cukup sudah semua itu terlihat di seluruh ruang lingkup kehidupan kita. Sebagai individu yang memiliki sikap kepahlawanan sejati, hal tersebut akan berusaha di ubah secepatnya. Dan mereka tak akan tenang apa bila perubahan itu tidak berhasil mereka lakukan, sedangkan potensi, tenaga, jerih payah, dan seluruh kemampuan mereka belum seluruhnya mereka keluarkan.
Semoga setelah membaca panjang lebar tulisan ini, kita bisa membangkitkan jiwa kepahlawanan yang sebenarnya ada di setiap tubuh kita. Yang hanya saja kita jarang atau tidak menggunakannya sebagaimana mestinya. Karena sosok pahlawan benar-benar di butuhkan. Lebih-lebih saat ini. Dan tulisan ini dapat menunjukan salah satu pembelaan untuk menunjukan sikap kepahlawanan. Agar para pembaca yang membaca mulai dini dapat menunjukan sosok seorang pahlawan. Karena banyak orang dan saya sendiri yang seharusnya merasakan malu karena telah terlambat menunjukan sikap tersebut. (pahlawan kesiangan)
DIarsipkan di bawah: Dunia Islam, Islam, Mahasiswa, artikel | Leave a Comment »



