Beban Amanah dan Kesiapan Aktivis Islam
Ikhwahmuda: Bismillaahirrohmaanirrohiim, kita patut
bergembira bahwa dari ke hari jumlah aktivis-aktivis Islam saat ini
terus bertambah dan itu berarti bahwa distribusi beban dakwah
perlahan-lahan mulai semakin merata. Walaupun begitu, memang masih
ditemukan di sana-sini adanya pemusatan beban karena jumlah beban
dengan pemikulnya belum terlalu seimbang.Oleh karena itu para aktivis muslim sampai saat ini memang masih
memikul beban yang sangat berat dan juga sangat banyak. Dan itu
kadang-kadang melampaui jumlah waktu yang mereka miliki. Dari situ
kemudian muncul berbagai persoalan, di antaranya adalah soal rasio
produktivitas kita dalam bekerja, kemudian masalah efisiensi waktu,
tetapi dua hal ini –rasio produktivitas dan efisiensi waktu- sama-sama
terkait dengan kompetensi individu masing-masing aktivis.
Kalau kita mengatakan rasio produktivitas, yang saya maksud adalah
semestinya seorang aktivis Islam itu rasio produktivitasnya sebagai
berikut, yaitu satu unit waktu sama dengan satu unit amal.
Sekarang, karena jumlah pekerjaan lebih banyak dari waktu yang kita
miliki, maka kita harus memilih bahwa satu unit waktu sama dengan satu
unit amal terbaik. Jadi kita selalu berorientasi kepada afdhalul amal,
itulah kaidah yang menggabungkan antara rasio produktivitas yang tinggi
dengan tingkat efisiensi.
Artinya efisiensi itu adalah fi’li amal pada setiap satu unit
waktu. Tapi sekali lagi, itu kembali kepada kompetensi individu
masing-masing. Dan jika bicara tentang kompetensi individu yang kita
maksud adalah apakah individu itu atau aktivis muslim itu sudah
merencanakan pengembangan dirinya yang maksimum. Sehingga bakat-bakat
yang terpendam dalam dirinya, semuanya terpakai untuk dakwah. Sebab
penelitian terhadap orang-orang besar yang pernah dilakukan di Amerika
–seperti yang dikutip oleh Syaikh Muhammad Al Ghazali- mengatakan bahwa
ternyata orang-orang besar yang pernah ada dalam sejarah hanya
menggunakan 5-10 persen dalam total potensinya.
Untuk mencapai hal di atas, kita harus selalu berorientasi kepada
penyatuan-penyatuan, pemaduan-pemaduan, pengharmonisan-pengharmonisan, dan mencoba meninggalkan kecenderungan pemisahan-pemisahan atau dikotomi, karena semua itu adalah kebajikan. Contoh: menuntut ilmu di kampus itu adalah kebaikan, berdakwah adalah juga kebaikan. Kita membutuhkan kedua-duanya sekaligus. Kita perlu ilmu supaya kita berdakwah dengan cara yang benar, dan kita harus berdakwah agar ilmu kita bermanfaat. Jadi, tidak ada alasan untuk memisah-misahkannya.
Persoalannya adalah persoalan manajemen, bagaimana mengelola waktu yang tersedia untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari semua amal yang ada. Itu saja masalahnya!
Dikutip dari buku:Geliat Da’wah di Era Baru: Kumpulan Wawancara Da’wah.