Tiap kali mentadabburi surah al-‘Ashr yang berjumlah 3 ayat itu, selalu menyisakan kekaguman yang luar biasa. Terlebih jika tiga ayat pendek-pendek itu dilihat dalam kacamata realitas sejarah jatuh bangun peradaban Islam. Seakan perkataan Imam Syafi’i terngiang kembali dengan segar. “Kalau umat manusia merenungkan surah ini, pastilah dia meliputi mereka (memadai).”
Yang menarik lagi ketiga ayat itu ada kaitannya dengan rumus Momentum dalam pelajaran Fisika yang saya pelajari ketika Aliyah dulu. Hasil perenungan ini menyimpulkan satu rumusan yang saya sebut dengan “fisika gerakan”. Surat ini menyibak rahasia besar kehebatan persaingan peradaban, yang satu sama lain tengah berjalan dalam prinsip hukum-Nya.
Bagaimanakah kaitan keduanya. Mari kita tadabburi terlebih dahulu surat al-Ashr. Surat ini berada dalam urutan ke-103, berjumlah tiga ayat, terletak di Juz ‘Amma, dan tergolong sebagai ayat-ayat Makkiyah.
Di ayat pertama Allah bersumpah dengan lafadz wal ‘ashri. Beberapa edisi Al-Qur’an Terjemah menerjemahkannya dengan kalimat: Demi Masa. Dalam buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal. 1041 disebutkan bahwa al-Ashr artinya ’zaman’. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa al-‘ashr berarti shalat ashar. Kuntowijoyo pernah menafsirkan surat ini dalam artikel panjang di sebuah harian nasional dengan istilah waktu ashar. Menurutnya, waktu ashar ini merujuk pada waktu sore. Dia bukan waktu siang sebab matahari akan tenggelam, dan bukan pula waktu malam, sebab rembulan pun belum muncul. Di saat-saat pergantian waktu itulah Allah bersumpah bahwa manusia saat itu dalam keadaan merugi, semuanya! Yang dikecualikan hanya mereka yang tergolong dalam empat golongan saja.
Konteks Peradaban
Dalam konteks peradaban, waktu ashar ini adalah waktu di mana sebuah peradaban tengah tergelincir ke Barat. Dan di Barat-lah matahari selalu tenggelam. Lalu mentari peradaban pun terbit kembali dari Timur di pagi hari. Di saat pagi inilah Allah bersumpah dua kali untuk dua waktu yang jaraknya amat berdekatan. Wal fajri (demi waktu fajar) dan wash-shubhi (demi waktu shubuh). Imam Ali pernah ditanya, apa sesuatu yang tidak bernyawa dan tidak berparu-paru tapi bernafas, beliau menjawab, wash-shubhi idza tanaffas (demi waktu subuh ketika dia bernafas). Lalu mengiringi matahari yang naik sepenggalan, Allah pun bersumpah kembali wadh-Dhuha (demi waktu dhuha). Ketika siang pun Allah bersumpah, wan-nahari idza tajalla (demi siang apabila terang benderang). Masuk sore hari, Allah bersumpah, wal-Ashri. Dan waktu malam, wallaili idza yaghsya (demi waktu malam apabila menutupi—cahaya siang). Begitulah pergiliran waktu yang di masing-masingnya Allah meletakkan sumpah-Nya yang Maha Besar. Dan, setiap peradaban akan melewati waktu-waktu yang telah diletakkan sumpah-Nya itu.
Ada apa dengan waktu ashar? Waktu ashar dalam konteks peradaban adalah detik-detik yang menentukan. Di waktu yang singkat ini jarang ada peradaban yang bisa bertahan. Masing-masing peradaban mengalami ketergelinciran menuju kegelapan malam yang menghanyutkan dan menghancurkan.
Beginilah faktanya, di pagi hari manusia dalam kesegarannya mereka bangkit menyiapkan berbagai pekerjaan yang produktif. Hingga jalan-jalan pun macet. Di siang hari, hasil jerih payah itu mencapai puncaknya. Masuk waktu sore, manusia-manusia peradaban itu pun kelelahan, pulang kerja, meletakkan seluruh pekerjaannya, dan mengambil aktivitas santai hingga malam menjelang. Lalu mereka mengambil tidur pulas pada waktu malam, hanya beberapa saja yang mempertahankan matanya tetap produktif.
Kejadian harian di atas berlaku juga pada perjalanan sebuah peradaban. Islam di awal risalah Muhammad saw. merupakan masa-masa menentukan produktivitas peradaban dengan gencarnya dakwah. Prestasi spiritual ini berhasil menjadi fondasi kegemilangan peradaban hingga abad pertengahan yang dijuluki kaum orientalis dengan fase the golden age (Masa Keemasan). Namun pergiliran pun tidak terlekakkan, perjalanan peradaban Islam memasuki waktu ashar, matahari peradaban saat itu bergulir ke Barat melalui Cordova, Spanyol, hingga mereka renaissance. Barat tercerahkan, Islam sendiri mengalami kebuntuan kreativitas, sebab pintu ijtihad telah ditutup. Masuklah malam. Peradaban Islam tidak lagi tergelincir melainkan tertidur. Ia terlelap kelelahan, dan hanya sedikit pahlawan yang bangun saat itu. Jika pun mereka teriak, tak ada suara yang menyahut. Senyap. Bahkan sepi. Inilah tragedi yang menyayat kemanusiaan. Di tengah kolonialisasi Barat dengan spirit merkalitilisme-nya, tidak ada satu pun kekuatan yang membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas. Apatah lagi umat Islam. Ia sudah porak poranda, terpecah-pecah dalam firqah-firqah, etno-nasionalizm, dan sebagiannya terjual menjadi antek-antek penjajah. Berbagai upaya kebangkitan para pahlawan telah pun dilakukan, namun umat tidur nyenyak. Ia hanyut dalam perdebatan usholli, qunut, tawashul, dan berbagai persoalan furu’iyah lainnya.
Kegetiran sejarah yang sedemikian, menyisakan sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab dengan jujur. Apakah saat ini kita masih di malam hari? Ataukah mungkin masih tersangkut di sore hari? Saya kira tidak di keduanya. Pertumbuhan harakah-harakah Islamiyah di masa kini amat menggembirakan. Kesadaran berislam telah pun bersemi dari bawah, walau pola pemerintahannya masih warisan para penjajah terdahulu. Geliat kapitalisme global pun telah memporakporandakan bangsa-bangsa yang beretika itu menjadi liberal, bahkan sangat liberal. Namun di tengah-tengah kegelapan ini, Allah menjanjikan Islam akan datang segera menggiring umat manusia pada cahaya-Nya melalui para mujadid yang telah diutus-Nya di waktu fajar kebangkitan. Itu artinya masa kita saat ini berada di waktu kedua, subuh hari. Subuh itu, seperti dikatakan Imam Ali, adalah waktunya bernafas, menghirup berbagai inspirasi kebangkitan, mengeratkan berbagai komponen pendukung, dan menyiapkan berbagai energi kekuatan kebangkitan hingga terjadilah momentum perubahan yang Allah janjikan di masa depan kelak.
Layastakhlifannahum fil alardh…
Rumus Momentum
Lantas apa kaitannya dengan rumus Momentum? Elaborasi di atas menjelaskan fase-fase perjalanan peradaban Islam dari era kebangkitan yang dibangkitkan oleh Nabi Muhammad saw.—setelah jatuh bangun peradaban Islam yang dilalui oleh para nabi sebelumnya—hingga fase kini di era kebangkitan jilid kedua. Rumus Momentum itu diperlukan dalam kerangka menciptakan momentum baru menyingkap embun pagi menuju masa-masa produktivitas menyambut kejayaan yang dijanjikan Allah. Satu keyakinan saya, bahwa momentum itu, selain ia hadir karena pergesekan realitas berbagai sejarah besar, juga sebenarnya momentum dapat diciptakan (dengan Izin Allah, tentunya). Momentum apa pun yang ingin kita ciptakan, rumusannya sama. Dan ia harus mengikuti ketentuan kauniyah-Nya, yakni massa dikali kecepatan. Atau kawan dari fisika menyederhanakannya begini: m x v.
Mari kita terjemahkan rumusan fisika di atas ke dalam bahasa pergerakan sosial. Bahwa yang disebut dengan massa adalah masyarakat, umat, atau aktivis pergerakan itu sendiri. Sedangkan kecepatan adalah upaya dan tindakan terjadinya berbagai akselerasi perubahan.
Mengikuti rumusan di atas, jika kita ingin menciptakan momentum, maka rumusnya adalah perbanyaklah kuantitas massa kita bersamaan dengan itu perbesarlah tingkat akselerasi kita dalam banyak hal.
Perlu diperhatikan. Rumus Momentum bukanlah massa ditambah kecepatan melainkan dikalikan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang aktivis bukan ditambah dengan satuan aktivis lainnya, melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan dua orang—digandakan berlipat ganda dalam sebuah sistem pergerakan yang akseleratif. Maka dalam sebuah pergerakan mahasiswa, sistem pengkaderan perlu dirancang secara heroik (psikomotorik), menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi (afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) mereka pada persoalan dan kemampuannya menjadi problem solver, bukan sekedar problem speaker, atau malah problem maker. Kerja-kerja ini juga tidak akan berhasil jika tidak ditopang dengan sistem gerakan yang terpadu di semua aspeknya, baik dari sisi tata keorganisasian, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekedar cepat bersikap), kemampuan menjaring relasi perubahan, dan daya dukung lainnya secara operasional.
Dalam konteks KAMMI, kaderisasi diposisikan bukan sebagai kewajiban pengurus atau pun hak kader. Di atas itu semua, kesadaran akan kemenangan peradaban masa depan di tangan Islam, pengkaderan adalah kultur gerakan, yang berarti pekerjaan mengkader adalah mentalitas kader dan pengurus itu sendiri. Masing-masing mereka adalah orang-orang pembelajar dan secara terbuka terbiasa menularkan kemampuannya pada yang lainnya. Mereka pegiat di lapangan, kokoh secara akhlak dan valid secara konsepsional.
Rancangan gerakan dengan spirit Menuju Muslim Negarawan adalah tantangan kita semua untuk menciptakan momentum baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Seperti apakah bentuk konkritnya kelak, ia hanya akan dicapai bentuknya oleh rumusan tadi: kuantitas banyaknya kader-kader terbaik yang akseleratif dan progresif dalam mempelajari berbagai hal secara terpadu dan terinterkoneksi satu sama lainnya. Allahu a’lam
DIarsipkan di bawah: Islam, artikel | 1 Komentar »