Sebuah Cinta yang Dijanjikan itu

Membangun obsesi kolektif berarti membangun cita-cita bersama. Bagaimana al-Qur’an membangun cita-cita bersama itu, dapat kita lihat di banyak ayatnya. Hal pertama yang disampaikan al-Qur’an terlebih dahulu adalah membangun tauhidul mafahim (kesatuan pemahaman). Pada bagian ini kita akan mentadabburi al-Qur’an pada berbagai cita-cita keummatan yang seharusnya terjadi di masa depan. Al-Qur’an sendiri menyebutnya bukan seharusnya terjadi di masa depan tetapi akan terjadi di masa depan. Kita awali dari penyatuan pemahaman terlebih dahulu.

Tauhidul mafahim adalah satu bentuk formula gagasan-gagasan yang berupaya untuk melakukan penyatuan pemahaman di antara keragaman pemahaman dan pergerakan. Islam sebagai satu Umat dengan mengacu pada satu Tuhan (tauhid) mengingkinkan terbangunnya persatuan dan persaudaraan di kalangan kaum muslimin. Dengan modal persatuan dan persaudaraan ini, berbagai proyek peradaban dapat terselenggara dengan baik. Tapi perlu diingat bahwa yang dimaksud penyatuan pemahaman ini bukan berarti penyeragaman berbagai perbedaan hingga tidak ada bentuk dan formula lain yang kreatif. Yang ditekankan al-Qur’an dalam penyatuan pemahaman adalah kesadaran akan umat yang satu, kesadaran akan umat yang terpimpin, kesadaran akan umat penengah, dan kesadaran sebagai umat yang memberikan kesaksian atas perbuatan-perbuatan manusia. Dengan kesadaran seperti inilah maka terbentuk kepahaman bersama bahwa umat Islam ketika disebut sebagai kaum muslimin, maka yang dimaksud adalah mereka yang memiliki akidah dan identitas yang digariskan al-Qur’an, karena bermuara dari al-Qur’an-lah kaum muslimin dapat bersatu.

Allah berfirman:
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

Sungguh betapa bahagianya kita menjadi umat yang satu umat yang bersaudara. Sesama saudara kita dapat melangkah menuju masa depan yang cerah dan indah. Seandainya umat Islam bersatu mungkin persoalan kekinian tidak saja dipikirkan dan dipecahkan sendiri-sendiri. Begitu juga seandainya umat manusia bersatu mereka akan membangun perdamaian sejati dan menghindarkan diri dari permusuhan dan sengketa yang tidak perlu. Sungguh, persaudaraan inilah yang menjadikan kita optimis menatap masa depan kebangsaan kita dan dunia global ini. Lebih dari itu secara khusus sebagai umat Islam, kita semakin percaya diri untuk merangkai strategi pembangunan proyek peradaban gemilang yang kini tengah dinanti-nantikan umat manusia sedunia.

Apakah hal itu sekedar impian yang tidak mungkin dicapai? Saya kira sekedar untuk keinginan dan harapan boleh saja, agar kita semangat berdakwah menebarkan nilai-nilai kebaikan Islam. Tapi Allah memperingatkan kita dengan firmannya:
Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (QS. Yusuf: 103)

Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhan-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. Yusuf: 118-119)

Faktanya memang demikian, umat manusia memiliki ego sendiri-sendiri yang satu sama lain dapat berbeda bahkan berseberangan dan berbenturan. Hal inilah yang menjadi faktor penyebab adanya sunnatuttadafu’ (hukum perbenturan)—bahasa Huntingtonnya: the class of civilization—antara al-haq wal batil.

Jika demikian faktanya maka ikutilah petunjuk ini:
Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al-Qur’an) dari Tuhan-mu, sebab itu barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.” Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (QS. Yunus: 8-9)

Setelah mengetahui realitas berat yang menantang kita untuk membangun sebuah peradaban ideal tadi, sekarang mari kita kembali pada cita-cita keummatan kita. Sebagaimana disampaikan dalam bab pendahuluan, bahwa masa depan itu terletak juga di dalam al-Qur’an, mari kita kembali pada informasi al-Qur’an mengenai masa depan.

Sejumlah Besar Golongan Kanan di Akhir Zaman
Dalam surat al-Waqi’ah diberitakan realitas masa depan umat manusia sebagai berikut:
Apabila terjadi hari kiamat,
terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal).
(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan golongan (yang lain),
apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya,
maka jadilah dia debu yang berterbangan,
dan kamu menjadi tiga golongan.
Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu.
Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.
Dan orang-orang yang paling terdahulu beriman (assabiqunal awalun), merekalah yang paling dulu (masuk surga). (QS. Al-Waqi’ah: 1-10)

Secara kuantitatif jumlah golongan berkualitas assabiqunal awwalun disebutkan juga oleh al-Qur’an sebagai berikut:
Segolongan besar dari orang-orang terdahulu,
dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (QS. Al-Waqi’ah: 13-14)

Sedangkan golongan kanan dikabarkan al-Qur’an:
Segolongan besar dari orang-orang terdahulu,
dan segolongan besar pula dari orang-orang yang datang kemudian. (QS. Al-Waqi’ah: 39-40)

Inilah kabar masa depan yang menggembirakan. Melalui informasi ini, kita menjadi yakin bahwa peradaban Islam akan tegak disebabkan manusia yang akan mendapatkan sibghah dakwah akan banyak meskipun tidak semuanya. Kegembiraan yang lain juga bahwa orang-orang berkualitas assabiqunal awwalun itu hadir juga di akhir zaman walaupun tidak banyak. Begitu juga mereka yang dimasukkan dalam golongan kanan dalam jumlah besar. Artinya pemimpin dan ummat Islam hadir secara terpadu di akhir zaman. Allahu a’lam.

Jika kaum muslimin yang berkualitas seperti para sahabat besar di zaman Rasulullah di akhir zaman sedikit, mungkin criteria mereka dapat kita ketahui dari informasi al-Qur’an dan sirah Nabi, sahabat, dan para ulama, mujahid, dan mujadid. Dan yang perlu kita ketahui dari informasi ayat ini sebenarnya adalah siapakah yang dimaksud dengan golongan kanan itu? Dengan mengetahui kriteria golongan kanan yang berjumlah banyak ini diharapkan kita termasuk di dalamnya dan dapat melibatkan banyak orang untuk ikut menjadikan dirinya menjadi orang-orang yang selamat dan mulia di sisi Allah.

Di dalam surat lain, yakni surat tentang negeri (al-Balad) dijelaskan dengan spesifik kriteria atau amal-amal yang menyebabkan manusia digolongkan sebagai golongan kanan.
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.
Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,
atau memberi makan pada hari kelaparan,
(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,
atau orang miskin yang sangat fakir.
Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
Mereka adalah golongan kanan. (QS. Al-Balad: 10-18)

Di dalam surat ini dijelaskan bahwa golongan kanan itu adalah mereka yang melakukan beberapa aktivitas di bawah ini secara terpadu, yaitu:
1. Membebaskan manusia dari perbudakan
2. Memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.
3. Beriman,
4. Saling berpesan untuk bersabar, dan
5. Saling berpesan untuk berkasih sayang.

Lima pekerjaan di atas dapat dilakukan secara individual dan kolektif. Bagi personal yang memiliki kemampuan dapat dilakukan secara individual. Dan alangkah lebih baik pula jika dilakukan secara terorganisir dalam sebuah kelembagaan atau pergerakan, apalagi dijadikan sebagai program kerja pemerintahan baik di tingkat negera yang bersifat nasional maupun di tingkat Rukun Tetangga, dan keluarga.

Kesadaran penting melakukan lima aktivitas ini di tingkatan masyarakat akan mempercepat hadirnya kaum masyarakat yang beriman dengan sejumlah besar dan karenanya akan memunculkan kekuatan tersendiri. Yang perlu disadari juga bahwa apa yang dilakukan dengan aktivitas ini bukanlah karena kebutuhan eksistensi publik sehingga yang dicari di sini adalah popularitas. Justru yang diinginkan adalah aktivitas yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam dengan keikhlasan dan kebersamaan.

Dalam konteks gerakan dan pemerintahan, membebaskan manusia dari perbudakan di antaranya adalah membebaskan rakyat bangsa dari ketergantungan, hegemoni asing, inferioritas jiwa, atau keterkungkungan budaya yang tertinggal. Begitu juga pemerintah membebaskan para pekerja di luar negeri dari ketersiksaan atau pencegahan dan penindakan tegas penjualan wanita dan anak-anak. Selain dari aspek kebijakan dan regulasi perundang-undangan yang melepaskan mereka dari keterkungkungan sebelumnya, pemerintah dan lembaga masyarakat memberikan alternatif pekerjaan yang membuat mereka merasa sebagai manusia merdeka. Di sinilah pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan harga dirinya di depan dirinya maupun di hadapan bangsa-bangsa lain. Dan hal paling mendasar dalam membangun perubahan yang permanent menghindarkan masyarakat dari ‘perbudakan’ adalah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan skill (keterampilan).

Memberi makan pada hari kelaparan kepada anak yatim, kaum kerabat, dan orang-orang miskin yang sangat fakir, dapat dilakukan dengan praktis berupa penyediaan bahan makanan pada masyarakat ketika atau sebelum terjadinya masa kelaparan. Antisipasi lebih diutamakan sebelum segalanya menjadi beban yang lebih berat. Hal ini dapat dilakukan dengan pekerjaan yang lebih strategis yakni dengan kebijakan dan program-program pemberdayaan yang menjadikan masyarakat lebih produktif dan mandiri. Selain tugas pemerintahan juga lembaga masyarakat bisa mendirikan institusi pelayanan ummat. Melalui institusi ini masyarakat dilatih untuk saling membantu baik secara professional kelembagaan maupun hobby kebersamaan. Yang jelas, sensitivitas sosial harus terbangun dalam jiwa kita yang ingin tergolong sebagai golongan kanan.

Beriman adalah hal yang paling substansial dalam kehidupan. Melalui iman inilah kita dapat menyadari kedalaman segala aktivitas yang dilakukan bahwa segalanya terkait dengan Sang Khalik. Kesadaran akan adanya ketuhanan sebagai Yang Maha Mengatur kehidupan dan kesadaran akan diri yang dirancang Tuhan sebagai makhluk yang saling membutuhkan dan melengkapi menjadikan kita patut bersyukur. Bermula dari imanlah aktivitas kita mendapat pemaknaan yang sangat mendalam. Melalui keimanan pula pandangan kita menjadi visioner menembus akhirat. Dengan keimanan segalanya dapat menjadikan diri kita mendapat arahan yang jernih dalam kehidupan ini. Bahkan melalui keimanan pula kita akan memiliki semangat yang bertalu-talu untuk menggapai ridha dan ampunan-Nya serta surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Disadari bahwa alam realitas itu penuh onak dan duri yang karenanya membutuhkan energi perjuangan yang ekstra, atau terkadang jiwa kita mendapat kelesuan dalam menjalankan amanah kehidupan, maka betapa indahnya al-Qur’an menyarankan kita untuk saling menasehati dalam kesabaran. Jalan agar kita termasuk golongan kanan disebutkan al-Qur’an sebagai jalan yang mendaki lagi sukar, menuntut kita untuk bersabar menjalankan berbagai aktivitas dan amanah. Kata ‘saling’ di sini menunjukkan adanya timbal baik, sebab terkadang kita yang membutuhkan nasehat atau saudara kita yang membutuhkannya. Lafadz tawashou atau ‘saling memberi pesan/nasehat’ menunjukkan pula adanya saling memperhatikan dan saling mengingatkan untuk selalu berada di jalan dan petunjuk yang benar. Begitu pula dalam kehidupan publik ketika pemerintah bergeser dari idealisme atau menyimpang, perlulah masyarakat untuk tampil mengingatkan, begitu juga jika terjadi pekat (penyakit di masyarakat) pemerintah melalui kebijakannya yang mengikat dan dapat memaksa perlu untuk turun mengingatkan dan menghilangkan penyakit itu.

Kriteria terakhir dari golongan kanan ini adalah saling berpesan untuk berkasih sayang. Manusia sekejam apapun, jiwanya memiliki kebutuhan akan sentuhan kasih sayang. Kasih sayang adalah kebutuhan yang paling mendasar baik bagi kalangan anak-anak maupun usia dewasa. Mereka tidak dapat memungkiri akan kebutuhan jiwa untuk bersandar pada kasih sayang. Begitulah sesungguhnya Islam pun tidak mentolelir adanya ekstrimitas dan terorisme. Islam hadir ke muka bumi ini sebagai agama yang menyelamatkan dan penuh kasih sayang. Melalui kasih sayang inilah maka dakwah dapat diterima di kalangan yang luas. Pernah suatu ketika Rasulullah ditagih hutangnya oleh orang Yahudi di depan para sahabat. Caranya menagih pun tidak etis. Dia menagih Rasulullah dengan menarik sorban Rasulullah hingga membekas memar di leher Rasulullah. Lantas para sahabat pun bangkit dan marah. Tapi apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau mencegah para sahabat untuk marah atau membunuhnya dan menasehati para sahabat agar si penagih hutang menagih dengan cara yang baik. Hingga si Yahudi itupun berkata, sesungguhnya aku hanya ingin menguji apakah ia benar sebagai nabi ataukah bukan. Jika ia nabi, tentu ia akan bersikap kasih saying dan lembut sekalipun dia dalam kondisi dipermalukan. Dan akhirnya, ia masuk Islam.

Bisa kita ambil hikmah dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sejumlah besar manusia di akhir zaman yang masuk ke dalam golongan kanan itu adalah mereka yang mengaplikasikan lima pekerjaan di atas. Jika lima hal di atas dapat ditradisikan dari sekarang, maka format masa depan umat Islam dapat diprediksi lebih dekat, bahwa peradaban Islam akan tampil ke permukaan di muka bumi ini lebih cepat.

Jika diperhatikan lebih cermat, surat al-Balad yang memuat dua golongan kanan (ashhabul maimanah) dan golongan kiri (ashhabul masy’amah) ini, dapat dikatakan bahwa surat ini adalah surat yang menjelaskan komposisi sosiopolitik sebuah negeri. Bahwa di setiap negeri akan selalu terdapat dua golongan itu. Tinggal bagaimana kita memilih, apakah akan termasuk golongan kanan ataukah golongan kiri. Allohu a’lam.

Kekhilafahan di Akhir Zaman bagi Orang Beriman dan Mengerjakan Amal Sholeh
Janji lain yang menggembirakan bagi kita sebagaimana diinformasikan al-Qur’an mengenai kabar masa depan adalah janji akan terwujudnya kekhilafahan kembali bagi kita sebagaimana orang-orang terdahulu telah mendapatkannya. Allah berfirman:
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang pasik.
(QS. An-Nur: 55)

Keberadaan khilafah sangat penting bagi umat Islam bahkan bagi umat manusia di dunia ini. Semenjak khilafah Utsmaniyah tumbang pada tahun 1924 lalu di Turki, kondisi umat Islam di dunia semakin mengkhawatirkan. Umat Islam tidak lagi memiliki kekuasaan yang dapat melindungi umatnya dari rongrongan kekuasaan lain yang sangat hegemonic. Umat Islam tertinggal dan tersingkirkan di berbagai bidang kompetisi peradaban. Negara-negara adidaya pemenang Perang Dunia I dan Perang Dunia II kini menjadi pengendali dunia. Negara-negera kecil atau negera-negara Dunia Ketiga yang ingin bangkit saja dipermasalahkan. Banyak kasus ketertindasan Kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang tidak mendapat advokasi semestinya, alih-alih umat Islam tertuduh sebagai penyebar terorisme dunia.

Tanpa khilafah, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin ‘cuma’ terasa di tataran wacana saja. Segala hal yang terkait dengan idealisme Islam terbatas dalam teks-teks dan sekedar nilai-nilai semata yang tidak mewujud di alam nyata. Imam Asy-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat menyebutkan lima hal yang fundamental (Adh-Dhoruriyatul Khamsah) dari kehadiran Islam ini, yakni hifdzud-din (menjaga agama), hifdzun-nafs (menjaga jiwa), hifdzul-aql (menjaga akal), hifdzun-nasal (menjaga keturunan), dan hifdzul-mal (menjaga harta). Pada dasarnya kelima hal yang primer ini dapat diwujudkan, terutama di tataran mikro dan makro, individu, keluarga, masyarakat, dan negara. Tapi dalam tataran makro global keummatan dan dunia, lima hal yang primer ini hanya menjadi wacana an sich. Semisal kejadian pengadilan gadis Muslimah di Perancis yang dilarang menggunakan jilbab tidak mendapatkan pembelaan yang semestinya. Umat Islam sedunia boleh marah dan demo ratusan ribu peserta aksi, tapi yang mengeksekusi kebijakan tetap saja pemerintah Perancis. Seandainya saja ada institusi Islam yang dapat mempengaruhi dan menegosiasikan kasus itu di level internasional secara mengikat dan bahkan dihormati dan disegani mungkin umat Islam hari ini akan mendapatkan kewibawaannya kembali.

Sebenarnya ijtihad Imam Asy-Syatibi memunculkan lima hal yang primer di atas dikondisikan oleh situasi dan lingkungan setempat. Pada masa itu khilafah tegak sehingga kelima hal tadi dapat disempurnakan oleh kekuasaan. Sekarang khilafah tidak ada, maka ketika melihat problem ummat yang tidak terlindungi tersebut perlu dicegah oleh pihak-pihak yang berkompeten, dan dalam tataran konsep di era sekarang ini maqoshid asy-syari’ah tadi perlu ditambahkan satu hal yang primer pula yakni hifdzul-ummah (menjaga ummat). Atas dasar pertimbangan demikian, selama khilafah belum berdiri, menjadi tugas bagi organisasi-organisasi Islam untuk dapat membela ummat dan membangun izzah-nya kembali.

Kalimat “bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa” menjadi janji Allah yang akan diwujudkan di masa depan kita. Tapi janji ini hanya akan diberikan jika kita memenuhi persyaratannya. Persyaratannya yaitu beriman dan beramal shaleh.

Yang dimaksud dengan beriman dan beramal shaleh dalam ayat ini bukanlah iman dan amal shaleh yang dipenuhi oleh diri sendiri secara tersendiri, melainkan secara kolektif. Sebab institusi kekhilafahan adalah institusi raksasa yang bersifat global, karenanya sangat dibutuhkan orang-orang beriman dan beramal shaleh dalam jumlah yang sangat signifikan. Jadi wajar saja jika kekhilafahan belum terbentuk sebab angka rasionalnya belum terpenuhi. Hal ini menjadi PR bagi kita untuk semakin giat berdakwah menebarkan dan mengenalkan Islam di berbagi sisinya baik keilmuan maupun akhlak dan lain sebagainya ke berbagai segmentasi masyarakat.

Yang perlu kita sadari juga, khilafah—begitu juga negara—bukanlah domain satu jamaah. Ia adalah institusi yang melibatkan banyak pihak di dalam tubuh umat Islam ini, sehingga mainstream yang dibangun adalah mainstream keummatan bukan keorganisasian jamaah satu kelompok. Oleh karena banyak pihak yang ikut terlibat dalam institusi global ini, maka mau tidak mau unsur toleransi terhadap berbagai perbedaan harus dikedepankan. Sikap baik yang perlu ditradisikan di kalangan umat kita saat ini adalah bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan saling menghargai dalam hal-hal yang berbeda. Dengan sikap inilah kita bersatu dan bekerja sama secara harmonis.

Dengan demikian Umat ini harus mau belajar dan bekerja sama dengan orang yang berbeda dari kelompoknya demi kepentingan yang lebih besar di masa depan. Demikian pula kita dituntut untuk saling memahami logika-logika yang digunakan oleh setiap organisasi keislaman dan sejarahnya agar kita dapat menemukan titik-titk temu itu pada ruang temu yang lebih bermakna dan menghasilkan karya nyata yang lebih besar. Jika kita tidak terbiasa mempelajari perbedaan-perbedaan yang ada bisa jadi selamanya kita akan selalu saling mencurigai bahkan kita akan lebih bangga dengan diri kita sendiri, sehingga cita-cita besar itu semakin tertunda kehadirannya akibat sikap tidak positif yang dipelihara ini.

Al-Qur’an mensinyalir bahwa setiap kelompok akan membangga-banggakan golongannya sendiri, melalui firman-Nya:
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhan-mu, maka bertakwalah kepada-Ku.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS. Al-Mukminun: 52-56)

Lalu Allah memberikan petunjuk pada kita untuk merekonstruksi diri akibat perpecahan umat yang terjadi ini dengan firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. Al-Mukminun: 57-61)

Dalam ayat yang lain ditekankan perlunya kompetisi sehat yang berskala global dalam rangka menyelenggarakan proyek-proyek kebaikan (fastabiqul khairat). Untuk yang terakhir ini al-Qur’an mengingatkan jika mau berkompetisi dalam kebaikan maka berkompetisilah dengan visi peradaban sebagai satu Umat yang berkompetisi dengan umat lain di luar Islam.
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 148)

Duabelas Janji dalam Surat Kemenangan
Kekuasaan bisa jadi adalah salah satu bentuk indikator kemenangan kompetisi antar peradaban, sebagaimana yang termaktub dalam ayat-ayat di atas. Namun jika kita perhatikan dalam surat kemenangan atau surat al-Fath (48), bentuk-bentuk kemenangan Islam dipaparkan dengan 12 bentuk, yang satu sama lain saling melengkapi, dan jika lengkap akan menyempurnakan keindahan Islam di dunia dan akhirat.

Pertama, ampunan (2).
Ampunan Allah ini diberikan secara jelas pada hamba-hamba-Nya dan dipaparkan dalam pembukaan surat. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan yang paling mendasar dan vital adalah ketika seorang hamba kembali pada Rabb-nya yang Maha Pengampun. Dalam surah Saba dijelaskan indikator sebeuah negeri ideal dengan sebutan baldah thoyyibah wa Rabbun Ghafur. Dan Allah hanya akan memberikan ampunan pada hamba-hamba-Nya yang memenuhi syarat berikut:
Dan Aku akan Memberikan Ampunan kepada orang yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, lalu ia mendapat petunjuk.

Kedua, hidayah (2).
Hidayah Allah berfungsi sebagai penerang pada jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim), dengan hidayah inilah manusia dapat percaya diri meyakini dan menjalani jalan kebenaran. Sebaliknya, tanpa hidayah, manusia selamanya akan dalam kegelapan dan kesesatan. Porak porandanya sebuah bangsa dan kebingungan mereka merekonstruksinya kembali jika tidak dibarengi dengan hidayah, sebagus apapun hasil perbaikan itu tetap akan menyisakan ketidaksempurnaan dan ketidakpuasan. Mereka yang berjuang tidak berangkat dari hidayah, akan mendapatkan kelelahan yang tiada berarti. Tapi seorang muslim yang berjihad dengan bekal hidayah, kelelahannyalah yang akan mengejar dirinya yang selalu bersemangat bertalu-talu.
Dengan demikian hal kedua dari bentuk kemenangan adalah mendapat hidayah.

Ketiga, pertolongan (3).
Pertolongan dalam sebuah proses perjuangan adalah satu hal yang sangat dibutuhkan. Melalui pertolongan akan didapatkan kemudahan-kemudahan dalam menggapai sesuatu. Terlebih jika pertolongan itu diisyaratkan al-Qur’an dengan istilah nashran ‘azizan atau pertolongan yang kuat. Dengan pertolongan yang kuat inilah kaum muslimin dapat menciptakan gelombang kemenangan yang sangat menakjubkan, bahkan membuat dacak kagum yang mengharu biru. Banyak kisah yang mengungkapkan bagaimana kaum muslimin dalam beberapa perjuangannya mendapat pertolongan yang tidak disangka-sangka. Melalui pertolongan inilah kemudian kemenangan mudah digapai.

Keempat, ketenangan (4).
Bentuk kemenangan juga adalah mendapatkan jiwa kita tenang atau istilah al-Qur’an sakinah. Bahasa al-Qur’an mengenai sakinah ini bersifat diturunkan (anzala sakinata fi qulubil mukminin) yang berarti ketenangan itu bersifat didatangkan setelah dan ketika memperjuangkan kebenaran secara kolektif. Ketenangan ini berfungsi untuk menambah keimanan yang telah didapatkan sebelumnya. Dengan bertambahnya keimanan energi perjuangan semakin bertambah kuat dan saat-saat tiba kemenangan itu insyaallah semakin didekatkan.

Jiwa-jiwa yang tenang sangat dibutuhkan untuk proses perjuangan yang membutuhkan energi kesabaran dan kejernihan rasionalitas. Bisa jadi tanpa ketenangan akan memicu kemarahan, yang segalanya menjadi mudah berantakan dan tidak lagi mengacu pada rencana yang telah disusun. Dengan ketenangan kita semakin dewasa menyikapi berbagai problematika, tidak reaktif apalagi sporadis. Jika anda perhatikan bagaimana para pengendali negara-negara maju itu mengendalikan negaranya, mereka tampil dengan tenang dan tidak mudah gusar. Di sinilah pentingnya jiwa yang tenang dan tidak emosional dalam memutuskan sebuah persoalan terlebih untuk persoalan-persoalan besar.

Kelima, masuk ke dalam surga (5).
Kemenangan yang paling didambakan kaum muslimin melalui berbagai sarana ibadah dan jihadnya sebenarnya adalah ingin masuk surga. Mereka beriman, berdakwah, beramal shaleh dengan aktivitas yang mashlahat dari aplikasi pemahaman agama, ilmu, serta teknologi adalah upaya untuk mendapatkan janji-Nya berupa surga yang abadi yang penuh kesenangan dan tidak akan didapatkan kelelahan sedikitpun. Mereka menahan hawa nafsu dan menyalurkan syahwatnya pada yang benar adalah bagian dari upaya menjaga diri agar kelak mendapat janji Allah berupa tempat yang menyenangkan di akhirat kelak. Kemenangan dengan cara masuk surga adalah indikator yang paling hakiki atas segala kemenangan dunia akhirat. Sebab di surga-Nya-lah kelak akan didapatkan keabdaian dan mudah dikabulkan dalam mendapatkan berbagai hal. Rasulullah telah menjamin sepuluh sahabatnya masuk ke dalam surga firdaus, kita pun berdo’a agar Allah memasukkan kita ke dalamnya.

Keenam, mengadzab kaum munafik dan musyrikin (6).
Perseteruan antara al-haq dan al-batil membelah manusia pada beberapa kelompok, mereka yang membela kebenaran dengan jujur, mereka yang membela kebenaran dengan tidak jujur, mereka yang melawan kebenaran dengan jujur, dan mereka yang melawan kebenaran dengan tidak jujur. Kemenangan berikutnya yang nyata menurut al-Qur’an adalah akan diazabnya kaum munafikin dan musyrikin. Dikatakan kemenangan karena hal ini merupakan bentuk dari pembalasan atas penyiksaan mereka terhadap kaum muslimin. Mereka akan mendapatkan giliran penyiksaan itu baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Ketujuh, diutusnya Rasulullah (9).
Diutusnya utusan-Nya pada kita adalah bentuk keberpihakan Allah pada kita. Hal ini berarti kehadiran Rasulullah merupakan bentuk kemenangan yang nyata yang telah Allah anugerahkan pada kaum muslimin dan umat manusia seluruhnya. Keberadaanya dapat dijadikan contoh bagaimana mengarungi kehidupan secara benar, mengelola oragnisasi secara benar, berinteraksi dengan banyak kalangan secara benar, berilmu dan berbisnis secara benar, dan lain-lain. Keberadaan utusan-Nya pada kita menandakan kebenaran berpihak pada kita. dengan segala hal apa yang disampaikannya meyakinkan kita untuk mengarungi perjuangan hidup sesuai petunjuk yang disampaikannya. Sebab dari para rasul-nyalah kepastian akan kebenaran bisa diukur.

Kedelapan, bai’ah para pengikut setia (10).
Bentuk kemenangan lain yang diberikan Allah adalah berbaiatnya orang-orang yang tersentuh dakwah Islam untuk totalitas mendukung, menyebarkan, dan menjaga Islam dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Para sahabat yang berbaiat inilah yang menjadi batu-bata pertama yang menjadi fondasi piramida dakwah Islam. Tanpa mereka, mungkin gelar khairu ummah tidak akan pernah disandangkan pada ummat ini. Adanya kesetiaan dan dukungan kaum muslimin untuk memperjuangkan nilai-nilai rahmat Islam adalah kemenangan awal yang paling nyata.

Kesembilan, keridhaan (18).
Keridhaan Allah atas berbagai pekerjaan dan aktivitas kaum muslimin adalah bentuk dari kemenangan Islam juga. Tanpa ada keridhaan Allah segala perbuatan, selelah apapun dan sebesar apapun dana yang dikeluarkan menjadi sia-sia. Dengan kerdihaan Allah, tentu Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan tanpa arah yang jelas. Keridhaan Allah adalah penyemangat juang kaum muslimin. Oleh karena itu sudah selayakanya kita menyandarkan seluruh aktivitas kita hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Kesepuluh, ghanimah (20).
Ungkapan ghanimah atau harta rampasan disebut dua kali. Bisa jadi hal ini merupakan bentuk balasan yang disegerakan. Sebab janji tersebut dapat dilihat secara kasat mata. Kemenangan yang bersifat material bukanlah hal yang tabu, hal itu adalah bentuk kewajaran. Namun yang perlu disadari bagi para pemenang adalah bahwa kemenangan material sesaat dapat menipu. Maka ketika kemenangan ini diberikan jangan kemudian terjadi perselisihan akibat pembagian, justru yang harus dikedepankan adalah itsar (mendahulukan saudaranya) dan zuhud (mementingkan akhirat). Ada adagium, orang zuhud itu adalah orang kaya yang dikejar dunia tapi ia juga meninggalkan dunia. Sedangkan orang miskin yang zuhud adalah mereka yang mengejar dunia tapi malah ditinggalkan dunia.

Kesebelas, fathul Makkah (27).
Kemenangan yang nyata yang Allah berikan pada Rasulullah adalah dibukanya Mekkah al-Mukarromah untuk Islam. Fathul Makkah ini menjadi tonggak sejarah bagi penyebaran Islam. Sebab pasca hijrah ke Madinah, selama Mekkah sebagai kiblatnya tidak futuh, selamanya negeri-negeri yang lain tidak akan dibukakan. Begitu juga Rasulullah mengatakan bahwa tidak ada hijrah setelah fathul Makkah. Itu artinya kaum muslimin sudah memiliki rumah sendiri dan menjadi pusat penyebaran Islam setelah memiliki Mekah dan Madinah, yang karenanya pengembangan Islam ke negeri-negeri lain bukanlah hijrah melainkan intisyarudda’wah (penyebaran/perluasan wilayah dakwah). Sebab itulah ia disebut sebagai pemenangan Islam.

Keduabelas, memenangkan Islam di atas agama yang lain (28).
Kemenangan yang paling tinggi adalah memenangkan Islam di atas agama-agama yang lainnya. Bentuk kemenangan ini merupakan kesadaran puncak bahwa Islam itu ya’lu walaa yu’laa ’alaih (tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya). Islam menang dari berbagai sisi, baik sisi spiritual, sisi konseptual, sisi kepemimpinan, sisi sosial keummatannya, di bandingkan dengan peradaban yang lainnya. Begitu juga Islam menang dari sisi pembuktian ilmu pengetahuannya, bahkan Islam pun menang dari sisi kontribusi materialnya sekalipun dari pada peradaban yang lainnya. Islam lebih kontributif membawa manusia pada hakikat kesejatiannya di dunia dan akhirat.

Dari duabelas bentuk kemenangan yang dipaparkan a-Qur’an baru sebelas yang telah dibuktikan oleh sejarah. Tinggal satu kemenangan yang belum Allah berikan pada kita, yaitu “Kemenangan Islam di atas agama-agama yang lain”. Dalam buku The Adveture of Islam, Marshall Hoghston, seorang sejarawan yang jujur dan sangat ambisius untuk menuliskan sejarah dunia paling lengkap di dunia. Ia memulai riset dan menulis sejak berusia 19 tahun, dengan jujur dia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang kristiani yang taat, namun dia mengakui kehebatan Islam. Menurutnya, setelah berpuluh-puluh tahun ia melakukan riset, di penghujung usianya, sebagaimana diakui dalam pembukaan buku itu, ia menyimpulkan bahwa sejarah dunia itu berputar. Dan putarannya itu berporos pada sejarah Islam. Dan sejarah Islam itu pun berputar yang berpusat pada satu pribadi, yakni pribadi Muhammad. Dan sesungguhnya pribadi Muhammad pun berpusat pada satu kekuatan, yaitu al-Qur’an yang dibawanya. Atas keyakinan yang kuat pada al-Qur’an-lah kaum Muslimin mampu menciptakan kegemilangan dalam sejarahnya. Bahkan sebenarnya mereka bereksodus ke belahan dunia lainnya hanya membawa satu kepercayaan diri sebagai the chosen people (khairu ummah).

Hari ini kaum muslimin tersingkirkan dari pusaran arus sejarah manusia. Kaum Muslimin berada di pinggiran panggung sejarah menatap manusia-manusia liberal mengendalikan kekuatan ekonomi politik dunia dan memainkan syahwat manusia pada jurang hiburan yang melenakan dan mematikan. Alam pikiran manusia pun terbelah pada cara pandangnya yang sekuler dan liberal. Manusia hanya meyakini bahwa alam ini tercipta dengan sendirinya tanpa kreasi cerdas Tuhan. Bahkan mereka berani mengatakan bahwa Tuhan telah mati. Para filosof pun menyatakan bahwa Tuhan tidak mengetahui detil-detil penciptaannya, bahwa Dia tidak lagi mengurusi dunia atau pensiun setelah alam ini tercipta. Dll.

Kehadiran Islam adalah meluruskan kondisi yang ada. Sebab Islam membawa umat manusia pada jawaban-jawaban yang pasti dan membimbing manusia pada jalan yang benar. Mengajak pada penyembahan Tuhan yang Satu yang menciptakan alam semesta dengan sempurna tanpa bantuan. Menghilangkan gap antara kemiskinan dan kekayaan. Jika kondisi itu dibiarkan berlanjut maka kehancuran akan segera menimpa umat manusia dan semesta. Sebelum alam ini berakhir pada hari kiamat, maka Islam akan tampil memperbaiki kondisi yang ada. Itu artinya Kemenangan Islam adalah mutlak kehadirannya di masa depan. Oleh karena itu masa depan ada di tangan Islam adalah sebuah kepastian. Pertanyaannya kapankah hal itu terwujud?

Untuk menjawab masalah kapan, hal ini kita serahkan pada Allah karena termasuk masalah yang ghaib. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kemenangan Islam itu tidak akan mewujud jika syarat-syaratnya belum terpenuhi. Dan salah satu syaratnya adalah hadirnya manusia-manusia besar yang memiliki kapasitas yang layak untuk mengemban kemenangan Islam. Mengapa harus manusia berkapasitas besar? Sebab Kemenangan Islam tidak dapat diemban oleh orang-orang yang lemah. Karena agama ini sebenarnya adalah agama peradaban yang memuat pemahaman-pemahaman yang mendalam dan kaidah-kaidah yang keseluruhannya memungkinkan dunia ini dikelola dengan desain dan sistem yang terpadu dan kokoh yang melibatkan banyak pihak di dalamnya. Karena itu penyangga peradaban Islam ini hanya dapat ditanggung oleh generasi yang berkualitas.

Lantas, siapakah mereka yang dapat memenangkan Islam di muka bumi itu? Generasi yang seperti apa yang dapat mengemban kebesaran Islam itu? Apakah mereka manusia-manusia super ataukah mereka manusia biasa? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dalam bab terakhir.

PAHLAWAN SEJATI

the real power

the real power

‘aku bukan pahlawan berparas tampan… sayap-sayap ku pun terbakar …..
benar salah ku pun lakukan…
(Superman is dead,Bukan Pahlawan)
Dalam bukunya Helden en Helden Vereeing, Thomas Carlyle memaparkan berbagai jenis-jenis pahlawan. Bagi Carlyle pahlawan di posisikan sebagai sumber dari segala perubahan. Pahlawan adalah manusia besar yang mengubah sejarah umat manusia. Menurut dia yang menganut the great man theory, Muhammad adalah sosok pahlawan. Demikian juga Karl Marx, Ernesto “Che” Guevara di Amerika Latin,dan Kemal attaturk di Turki, maupun Mao Zedong di Cina.
Itu menurut Thomas Carlyle, bagai mana menurut kalian?. Dalam presepsi masyarakat, pahlawan tidak pernah lepas dari sosok orang yang sangat berjasa terhadap negara, atau yang lebih spesifik lagi, yaitu pejuang negara di medan perang. Kalau dengan presepsi tersebut, wajar terbentuk berbagai macam pahlawan dalam sejarah Indonesia. Semacam, pahlawan kemerdekaan, pahlawan Revolusi, pahlawan nasional.
Lain lagi dalam pandangan anak-anak kacil. Apabila di lontarkan pertanyaan mengenai apa itu pahlawan, tentu mereka akan menjawab bahwa, pahlawan adalah orang yang dengan berani membela kebenaran melawan orang jahat yang mencoba menguasai bumi. Seperti power ranger, kesatria baja hitam, kinikuman, ultraman, dan lain sebagainya. Dan masih banyak lagi macam maupun pandangan mengenai pahlawan. Bahkan, embel-embel pahlawan bisa menjadikan nama lain dari profesi seseorang. Misalnya, pahlawan tanpa tanda jasa (guru), pahlawan devisa (TKW), pahlawan keluarga (Ayah), atau pahlawan kesiangan (orang yang terlambat memberikan pertolongan).
Sedangkan kalau di kaji lebih lanjut, ternyata kata “pahlawan” adalah bermakna orang yang berpahala. Kata ini di ambil dari kata pahalawan yang kemudian agar mudah menyebutnya menjadi pahlawan. Mungkin pemberian nama pahalawan tersebut, karena masyarakat melihat sosok orang yang berjuang membela kebenaran adalah orang yang mendapatkan pahala atas perjuangannya. Sedangkan, banyak sekali yang mendapatkan gelar pahlawan di bumi ini tanpa jelas kebenaran perjuangan yang di lakukan orang tersebut. Sebagai contoh, Amerika menganggap orang yang membumi hanguskan negri-negri islam dengan dalih pemberantasan teroris sebagai pahlawan. Para mahasiswa yang tewas karena tragedi Mei 1998 di anggap sebagai pahlawan. Tanpa melihat keadaan dan maksud dari aksi pada saat itu. Tentara yang berjuang di medan perang mati-matian demi mempertahankan batas negaranya di sebut sebagai pahlawan. Soekarno yang berhasil memerdekakan Indonesia, dengan menghapus tujuh kata sakral dalam Pancasila yang terang-terangan menghianati Islam, di anggap sebagai pahlawan. Kemal Attaturk yang meproklamirkan berdirinya negara Turki,dengan sebelumnya dia meruntuhkan Khilafah Islamiyah, di anggap rakyat turki sebagai pahlawan. Dan masih banyak contoh-contoh lain para tokoh yang belum tentu pantas mendapat gelar pahlawan.
Memang benar, tokoh-tokoh tersebut akan di anggap pahlawan bagi orang yang merasa sejahtera karenannya. Sebaliknya, tokoh-tokoh tersebut bisa pula di anggap penghianat, pemberontak, penyerang, maupun ‘biang kerok’ di lain sisi. Yaitu sisi dimana merasa di rugikan karena kehadiran atau perjuangannya.
Jadi, semua itu kembali pada individu masing-masing untuk mempresepsikan benar tidaknya tindakan yang di lakukan pahlawan tersebut. Dan tentu saja itu akan berbeda, karena otak, cara pandang, pengalaman , dan tolak ukur perbuatan setiap orang berbeda.
Namun,tidak akan adil apabila semua itu di sandarkan hanya kepada presepsi individu semata. Maka, pandangan terhadap sosok pahlawan harus di lihat dari segi apa yang di perjuangkannya. Apabila seluruhnya di katakan memperjuangkan kebenaran… Lalu, kebenaran yang seperti apakah?. Apa yang di maksud kebenaran? Kebenaran mana yang hakiki? Apakah pantas orang yang tidak melakukan kebenaran yang hakiki dan kebenaran yang bersumber dari Sang Pencipta, mendapatkan pahala. Sehingga bergelar pahalawan?.
Untuk menilai seseorang dari sudut pandang pahala yang ada pada dirinya, tentu sesuatu yang sulit di jangkau oleh manusia. Sebab yang memberikan dan menentukan pahala hanyalah Sang Pencipta manusia itu semata. Dan pula Sang Pencipta-lah yang telah memberikan kepada manusia berbagai pedoman dan petunjuk, yang kita gunakan sebagai cara agar dapat menuju pada hakikat kepahlawanan itu sendiri.
Pada hakikatnya, kepahlawanan itu sendiri merupakan perbuatan yang menunjukan sifat seorang pahlawan seperti keberanian, pengorbanan, kesetiaan,dll. Dalam Islam yang merupakan satu-satunya agama yang benar di Jagad Raya ini, gelar kepahlawanan tidak cukup hanya mengacu pada definisi di atas. Harus di lengkapi dengan dua syarat mutlak. Yaitu, niat ikhlas karena Tuhan Sang pengatur kehidupan, dan caranya seperti yang di contohkan oleh Muhammad Sang Rasul Pembawa ajaran Islam, dan teladan paling baik sepanjang masa.
Ikhlas dalam artian, perjuangan yang di lakukan hanya karena Sang Pencipta semata. Jadi, segala keberanian, pengorbanan, atau kesetiaannya tidak di persembahkan untuk memperoleh tanda jasa, materi, pujian maupun pengakuan masyarakat. Apalagi di niatkan demi negara , tanah airnya, suku, atau pun rasnya (’ashabiyyah) yang jelas-jelas bertentangan dengan aturan Islam.
Berjuang untuk kemerdekaan negrinya dalam konteks ‘ashabiyyah (nasionalisme, sukuisme,rasisme,dll.),memperjuangkan demokrasi dan HAM, dan pemikiran di luar islam lainnya, itu pun tidak layak masuk dalam perbuatan seorang pahlawan. Karena tidak sesuai dengan ajaran yang di contohkan Muhammad.
Seorang kawan yang tergila-gila dengan sebuah kata pahlawan, pernah mengutip kata-kata Anis Matta yang kemudian selalu di katakannya. Anis matta mengungkapkan ; ‘pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan’. Jadi, seorang pahlawan yang benar-benar menjiwai sikap kepahlawanan, tak akan pernah melepaskan saat-saat atau momen di mana sikap kepahlawanannya harus di tampilkan. Saat di butuhkan, seorang pahlawan akan terjun melakukan aksinya. Namun, tetap terjaga dari prinsip-prinsip kepahlawanannya.
Sebenarnya di saat yang merumitkan sekarang ini, sosok kepahlawanan yang dapat memberikan pencerahan sangat di butuhkan. Momen-momen terbuka dan berhamburan. Seluruhnya termasuk dalam kategori masalah yang mengaharuskan pembebasan oleh seorang tokoh pahlawan. Mungkin pahlawan harus tampil persis layaknya super hero-super hero kondang di televisi. Dimana ada momen yang mengharuskan super hero datang menolong, maka dengan gesit super hero itu terjun langsung ke lapangan menjalankan tugasnya. Contoh saja superman yang dapat langsung datang memberikan bantuan secepat kilat ketika ia di butuhkan. Atau, Peter Parker yang sudah bersiap-siap lebih dahulu memakai kostum spidermannya di lapisan dalam bajunya, agar dengan cepat ia dapat beraksi menolong orang.
Mereka, (super hero) dapat melakukan hal tersebut di karenakan mengembangkan kepekaan insting kepahlawanannya, selain pula mereka sadar bahwa itu wajib dilakukan sebagai sosok pahlawan. Karena mereka mengerti, di saat yang genting mungkin tak akan ada orang yang dapat meredakannya selain mereka. Walaupun ada pihak lain yang dapat meredakannya, namun kontribusi apa yang bisa mereka berikan pada saat itu. Layakkah sosok pahlawan berdiam diri pada saat tersebut?. Dengan membutakan seluruh indra, dan tanpa melakukan tindakan pasti.
Imam khomeini pernah berkata : orang yang diam melihat penindasan, adalah lebih kejam dari penindas itu sendiri. Tentunya perkataan Khomeini tersebut bisa di katakan benar. Orang yang tak bergetar hati dan jiwanya ketika penindasan di lakukan di depan matannya, sama saja dengan penindas itu sendiri. Bahkan bisa di katakan lebih kejam karena ia membiarkan saja hal itu di lakukan padahal ia mengerti bahwa hal itu tak layak di lakukan. Berarti orang tersebut pelit memberikan bantuannya, yang sebenarnya wajib ia berikan saat itu. Mengapa di katakan lebih kejam dari pada penindas itu sendiri?. Itu karena perbandingan sikap yang berbeda. Bisa jadi sang penindas melakukannya karena sebab balas dendam, ataupun karena pada saat perang, selain pula karena penindas tersebut tidak mengerti hal yang di lakukannya itu salah. Maka bisa kita katakan hal itu wajar. Sedangkan, orang yang diam melihat penindasan, tidak bisa di bilang wajar. Karena ia mengerti hal itu salah untuk di lakukan.
Rasulullah (Muhammad) pun pernah jua bersabda : ‘apabila kamu melihat kemungkaran, maka lawanlah dengan kekuasaanmu, apabila kamu tidak mampu maka dengan lisanmu, apabila tidak mampu maka dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman.’ Dari perkataan rasulullah tadi, bisa di katakan rasulullah ingin semua umatnya memiliki sikap kepahlawanan. Yaitu dengan mengharuskan umatnya memiliki sikap pemberontakan terhadap kemunkaran. Lalu melakukan tindakan pasti, agar kemungkaran itu dapat hilang dengan perlawanan atau perjuangan yang melawannya. Bahkan, apa bila tidak maka konsekuensinya orang tersebut di cap beriman lemah, yang cap tersebut bahkan lebih baik berbadan lemah daripada beriman lemah.
Sekarang, potensi apakah yang bisa membuat kita menjadi sosok pahlawan?. Perlukah memiliki berbadan seperti Clark Kent dahulu agar bisa menjadi pahlawan?. Atau otak seperti Einstein agar bisa di sebut pahlawan?
Menjadi pahlawan harus kita lakukan. Namun, jalan untuk menjadi pahlawan bisa dari berbagai cara. Sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Apabila diantara kalian ada yang lihai berorasi, gunakanlah potensi tersebut untuk meng-orasikan perjuangan kebenaran ke masyarakat luas. Apabila ada yang lihai menulis, tulislah hal-hal yang mengacu pada perubahan ke arah yang lebih baik. Apabila ada yang dapat berpikir dengan jenius, gunakanlah otak jenius tersebut untuk memikirkan bagaimana mensejahterakan masyarakat luas. Atau ada yang memiliki kemampuan beladiri dengan baik, maka gunakan untuk membela kaum yang tertindas. Maka kalian semua layak di sebut sebagai pahlawan. Asal tidak keluar dari nilai-nilai dasar islam.yang merupakan tolak ukur baik buruknya seluruh perbuatan.
Pahlawan juga selalu siap setiap saat. Sebab, kebenaran harus selalu di lakukan dan jangan di tunda. Kini, momen untuk melakukan aksi-aksi kepahlawanan sangat banyak. Terlihat di semua lini kehidupan kemasyarakatan hingga kemancanegaraan. Dimana ketertindasan terjadi, sosok pahlawan jarang yang terlihat muncul di sana. Bahkan malah sebaliknya sosok pecundang tanpa malu berkeliaran di puing-puing penindasan. Mereka menutup mata, seraya terus-terusan memikirkan perut dan kantong mereka sendiri. Sedangkan banyak orang yang terindas (secara fisik maupun pemikiran) yang berharap dari pecundang tersebut. Setidaknya pecundang tersebut berubah bersikap kepahlawanan.
Televisi menjadi sosok pecundang besar-besaran ketika tidak memperdulikan orang yang ‘kekurangan’, padahal televisi tersebut dapat membagi-bagikan uang 2 milyar setiap minggunya melalui acara kuis-kuisnya. Pemerintah menjadi sosok pecundang yang terstruktural, ketika kekuasaan untuk menyantuni rakyatnya yang ’sekarat’ malah di nonaktivkannya atau tidak semaksimal mungkin di berikan. (Bahkan pemerintah malahan tunduk pada pihak asing yang merugikan rakyatnya dengan eksploitasinya.) Dan juga kita menjadi pecundang apabila setelah mengerti itu semua, malahan tidak melakukan apa-apa sama sekali, atau malah memperparahnya.
Mungkin cukup sudah semua itu terlihat di seluruh ruang lingkup kehidupan kita. Sebagai individu yang memiliki sikap kepahlawanan sejati, hal tersebut akan berusaha di ubah secepatnya. Dan mereka tak akan tenang apa bila perubahan itu tidak berhasil mereka lakukan, sedangkan potensi, tenaga, jerih payah, dan seluruh kemampuan mereka belum seluruhnya mereka keluarkan.
Semoga setelah membaca panjang lebar tulisan ini, kita bisa membangkitkan jiwa kepahlawanan yang sebenarnya ada di setiap tubuh kita. Yang hanya saja kita jarang atau tidak menggunakannya sebagaimana mestinya. Karena sosok pahlawan benar-benar di butuhkan. Lebih-lebih saat ini. Dan tulisan ini dapat menunjukan salah satu pembelaan untuk menunjukan sikap kepahlawanan. Agar para pembaca yang membaca mulai dini dapat menunjukan sosok seorang pahlawan. Karena banyak orang dan saya sendiri yang seharusnya merasakan malu karena telah terlambat menunjukan sikap tersebut. (pahlawan kesiangan)

KRITISME MAHASISWA

Dari elemen pemuda yang ada, Mahasiswa merupakan kalangan yang di nilai paling kritis. Sifat kritis yang mereka miliki hampir sebaian besar mereka dapatkan di bangku kuliah. Mereka sudar terbiasakan diajari agar memiliki kemampuan kritis dan analitis tentang masalah yang ada di sekitarnya. Melalui proses pembelajaran, diskusi dengan teman sejawat dan berbagai aktivitas yang dilakukannya baik melalui organisasi intra maupun ekstra kampus, maka mereka menjadi kelompok yang memiliki kesadaran kritis (critical awareness).
Presiden Soekarno bahkan pernah membuat semacam tipologi mahasiswa Indonesia dan kemudian membaginya menjadi empat kelompok, yaitu: kelompok mahasiswa yang menjadi kutu buku, artinya mereka hanya kuliah dan membaca buku. Kemudian kelompok mahasiswa yang hanya berfoya-foya saja, kuliah hanya menjadi simbol belaka. Lalu, mahasiswa yang hanya aktif di organisasi dan hanya memperhatikan lingkungan sosial sekelilingnya. Dan berikutnya adalah mahasiswa yang kutu buku tetapi juga selalu memperhatikan dunia sekelilingnya. Tipologi keempat inilah yang diidamkan oleh Soekarno sebagai mahasiswa ideal yang kelak akan dapat menjadi pemimpin bangsa.
Mahasiswa memang harus kritis. Kemampuan kritis tersebut akan menjadi garis pembeda antara mahasiswa dengan kelompok lainnya. Mahasiswa adalah kelompok yang paling sadar tentang situasi dan kondisi bangsanya. Melalui kemampuan analisisnya, maka mereka merupakan kelompok yang paling sadar akan nasib bangsanya di masa depan. Makanya, jika dilakukan pengamatan terhadap berbagai protes atau demonstrasi tentang berbagai masalah bangsa, maka yang pasti melibatkan mahasiswa.
Dunia mahasiswa merupakan wadah pencarian dalam banyak aspek kehidupan. Bisa saja aspek politik, sosial, budaya dan juga agama. Mereka sedang dalam proses mencari dan terus mencari. Makanya, siapa yang bisa memberikan solusi yang memadai di dalam proses pencarian tersebut, maka dialah yang akan menuai hasilnya. Apakah mereka akan dijadikan orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, kritis terhadap politisi, kritis terhadap para pejabat, kritis terhadap nasib umatnya atau bahkan kritis terhadap nasib bangsanya. Proses pencarian dan penemuan atas pemikiran kritisnya inilah yang disebut sebagai fase menentukan di dalam perjalanan kehidupan mahasiswa.
Dalam kasus keterlibatan mahasiswa pada gerakan Islam garis keras, sesungguhnya juga diakibatkan oleh proses pencarian dan penemuan dimaksud. Ketika mahasiswa kritis terhadap nasib umat Islam di berbagai belahan dunia, nasib umat Islam yang selalu terpinggirkan dan nasib bangsanya yang tidak menentu di kemudian hari, maka bertemulah mereka dengan orang yang pernah berjuang dan mengalami fase pendzaliman di negara-negara Islam, seperti: Afghanistan, Palestina, Irak, dan lain-lainnya. Pengalaman yang luar biasa menyesakkan tersebut yang dipadukan dengan kefasihan menyampaikan ajaran agama yang luar biasa akan menjadi daya tarik yang sangat kuat untuk menjadi pengikut setia.
Penderitaan umat Islam di Irak yang diinvasi oleh Amerika dan penderitaan umat Islam di Afghanistan, yang secara langsung dialami oleh mereka yang pernah berjihad di dalamnya, akan menjadi cerita tragedi-dramatis kemanusiaan yang tidak akan terlupakan. Jika cerita tersebut dirangkai ulang dan disampaikan dalam retorika yang menarik, maka akan menyebabkan ketertarikan dan pembenaran yang memadai.
Tokoh-tokoh Islam garis keras dapat memanfaatkan situasi tersebut. Makanya kemudian banyak anak kampus yang tertarik dengan ajarannya. Mereka adalah anak-anak kampus yang cerdas dan memiliki kemampuan kritis yang sangat baik. Anak-anak pintar ini memang secara sengaja dibidik agar mengikuti ajarannya. Dan sekarang tentunya sudah banyak di antara anak-anak kampus yang pintar itu menjadi simpatisan gerakan Islam keras dimaksud. Memang agak sulit melakukan identifikasi secara keseluruhan terhadap mereka ini.
Dunia mahasiswa yang kritis tersebut mestinya memperoleh ruang gerak yang memadai agar tumbuh menjadi persemaian yang bermanfaat. Keterlibatan mereka terhadap gerakan Islam garis keras, rasanya disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa mereka tidak menemukan sesuatu yang menantang di organisasi kemahasiswaan yang ada. Bisa saja dianggapnya, bahwa organisasi kemahasiswaan yang ada tidak mampu menghadirkan kepuasan bagi gelegak pencarian identitas dan praksis kehidupannya. Mereka justru menemukannya di ajaran Islam garis keras. Tawaran solutif yang diwacanakan di kalangan pengikut Islam garis keras dianggapnya sebagai cara instan yang dapat menyelesaikan masalah bangsa dan negara. Sementara organisasi kemahasiswaan hanya menjadi ajang ketemu dan berbicara wacana tanpa solusi dan tindakan praksis.
Oleh karena itu, diperlukan suatu cara baru dalam pembinaan kemahasiswaan di saat standing recidency. Perlu ada pembinaan jangka panjang yang dipersiapkan secara sistematik dan terstruktur. Dan bagi mereka yang akan menjadi pendamping atau pembina mahasiswa tahun pertama adalah mereka yang sudah teruji di dalam banyak hal termasuk nasionalisme dan kebangsaannya. Jika hal ini bisa dilakukan secara menyeluruh, maka sekurang-kurangnya akan dapat menjadi solusi bagi proses pencarian diri di kalangan mahasiswa dimaksud.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Murottal Online

marso’s galery

The Blogger story

CATATAN PERJALANAN BLOGER

The KAMMI fighter

The KAMMI fighter

Banyak hal yang kadang tak ku mengerti dari berbagai peristiwa dalam kehidupan ini walau hanya sekedar tuk ku pahami. Tapi yang ku tahu pasti, bahwa hidup harus terus bergerak, bergerak, dan terus bergerak….

Assalamu’alaikum wr.wb.

Seiring salam sejahtera, smoga kita semua tetap dalam limpahan rohmat dan kasih sayang Allah SWT . Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rasulullah SAW semoga kita beroleh syafaatnya di hari kiamat nanti.Waktu terus berlalu, berjalan, dan meninggalkna kita. Banyak hal yang kita dapatkan dari eksistensi waktu. bersama waktu kita menangis, bersama waktu kita tertawa.Dengan waktu, Allah mengajarkan segalanya… Larian Waktu terlalu pantas. Tidak terkejarkan. Ia ibarat pedang yang memotong kehidupan. Waktu yang terpotong hanya boleh diabadikan. Waktu yang diabadikan adalah tulisan kehidupan. Tulisan kehidupan mungkin dapat memberi makna, menjentik intuisi, memperkaya inspirasi,merekam masa lalu dengan kesyukuran, masa depan penuh harapan.Waktu adalah kehidupan. Banyak kisah yang terukir bersamanya. Berangkat dari kesadaran diri tersebut, maka Saya berusaha mengabadikan berbagai moment yang sekiranya dapat dijadikan sebagai catatan perjalanan hidup saya sekaligus sebagai sarana perenungan dan curahan pemikiran saya tentang berbagai refleksi kehidupan yang saya jalani.Semoga bermanfaat bagi semua.amiien.

wasalamu’alaikum wr.wrb.


BENARKAH 1 JANUARI TAHUN BARU !

Adakah ayat suci yang menganjurkan manusia memakai penanggalan Qamariah ? Alquran memberikan hal-hal yang logis yaitu yang sesuai dengan pertimbangan dan pemikiran wajar, ini disebut kan pada berbagai ayat di antara lain pada 3/60. Alquran mengandung pokok keterangan bagi seluruh persoalan, dinyatakan pada ayat 16/89, hanya manusia juga yang belum sesungguhnya dapat mengambil dan memakaikan seluruh keterangannya. Mengenai penanggalan secara spontan Alquran memberikan anjuran sebagai dimaksudkan di bawah ini : إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلااللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينََ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ 9/36. Bahwa bilangan bulan-bulan pada Allah ialah dua belas bulan pada ketetapan Allah atas hari (tatasurya) yang DIA ciptakan planet dan Bumi. Dari pada bulan-bulan itu ada EMPAT bulan Mulia. Itulah agama yang kukuh, maka janganlah menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu, dan perangilah orang-orang musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya, dan ketahuilah bahwa Allah itu bersama orang-orang yang insyaf. إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُ واْ يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا َوْمَ الْكَافِرِين حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَ 9/37. Bahwasanya pengunduran (dari penanggalan Qamariah) adalah penambahan pada kekafiran, disesatkan dengannya orang-orang kafir yang menghalalkan suatu musim dan mengharamkannya pada tahun musim lainnya agar mereka menguasai bilangan yang Allah haramkan, maka mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan. Dihiaskan untuk mereka kejahatan perbuatan mereka, dan Allah tidaklah menunjuki kaum yang kafir. هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 10/5. DIAlah yang rnenjadikan Surya itu bernyala dan Bulan itu bersinar, dan DIA tentukan Bulan itu tempat turunnya (orbitnya) agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Tidaklah Allah ciptakan yang demikian itu kecuali dengan hal yang logis. DIA jelaskan pertanda-pertanda itu bagi kaum yang berilmu. إِنَّ فِي اخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَّقُونَ 10/6. Bahwa pada pergantian malam dan siang dan apa yang Allah ciptakan di planet-planet dan di Bumi menjadi pertanda-pertanda bagi kaum yang menginsyafi. Rangkaian ayat suci di atas ini secara jelas menerangkan bahwa penangalan yang berlaku dan yang harus dipakai di seluruh kehidupan dalam daerah tatasurya ini adalah penanggalan Qamariah di Bumi. Pergantian musim nyata semakin pendek waktunya, dan kalau orang memakai penanggalan rnusim pula di Jupiter misalnya maka satu tahun di sana adalah sebelas tahun dl Bumi karena selama itu pula masa pergantian musirn di planet itu. apalagi kalau di Saturnus yang satu musimnya berlaku selama 29 tahun di Bumi. Penanggalan Qamariah di Bumi mungkin banyak faedahnya terutama sewaktu telah berlangsung penerbangan antar planet. Satu-satunya planet yang memilik SATU BULAN hanyalah Bumi ini saja maka karenanya praktislah penanggalan Qamariah di Bumi dipakai untuk daerah tatasurya kita ini. Sebentar lagi terwujudlah hubungan antar planet itu sebagai realita dari maksud ayat 10/6 tadi dan sesuai dengan ayat 65/12, karenanya hendaklah orang membiasakan diri dengan maksud ayat 9/36 di atas tadi. Bumi mengorbit 345 derajat selama 12 bulan Qamariah Bukti pertama untuk membenarkan bahwa Bumi ini hanya mengorbit 345˚ keliling Surya ialah bahwa dalam waktu 24 tahun Qamariah setiap bintang di angkasa akan berada pada tempat yang sama jika dipandang dari suatu tempat di permukaan Bumi pada saat-saat yang sama, Hal itu dapat dimengerti bahwa lingkaran 360 derajat keliling Surya hanya dilalui 345 derajat untuk satu kali orbit berarti 15 derajat senantiasa tertinggal setiap tahun Qamariah; Dari titik 345 derajat itu Bumi memulai orbitnya yang baru 345 derajat pula untuk berikutnya. Maka kekurangannya 15 derajat x 24 (tahun) sama dengan 360 derajat dengan ketentuan bahwa. Bumi berada kembali pada posisinya pertama 24 tahun yang lalu pada titik Periheliun orbitnya untuk tahun ke-25 dan selanjutnya. Bukti kedua ialah bahwa Surya paling dekat kelihatan dari Bumi ini setiap tanggal 1 Muharram tahun Qamariah yaitu sewaktu Bumi selesai menjalani orbitnya 345 derajat untuk memulai orbit baru tahun baru. Waktu itu pasang di lautan jadi naik melebihi daripada keadaan normal pada bulan-bulannya, hal itu disebabkan tarikan Rawasia Surya sangat berpengaruh karena dekatnya, diperkirakan 90.000.000 mil dari Bumi, yaitu sekira 3.005.000 mil lebih debak dibanding dengan bulan Rajab. Bukti ketiga ialah bahwa tahun Qamariah terdiri dari 12 bulan, harinya 355, maka teranglah orbit Bumi itu hanya 345 derajat dimulai setiap tahuan Muharram. Bukti keempat ialah kalau penanggalan Musim (Solar Year) memakai waktu satu tahunnya 365 seperempat hari dan itu dijadikan alasan untuk menentukan bahwa Bumi ini mengorbit 360 derajat setiap tahunnya. maka hal itu tidaklah benar karena setiap tahunnya bintang di angkasa terlambat terbitnya 4 derajat 48 menit, dan itu menandakan bahwa gerak Bumi dalam satu tahun Musim atau selama 365 seperempat hari tahun Musim belumlah lingkaran 360 derajat tetapi baru 355 derajat 12 menit. Jika penanggalan demikian dipakai untuk perhitungan, maka: a. Setiap bulannya Bulan di angkasa tidak menunjukkan tanggal yang sama dengan penanggalan sewajarnya: Adakalanya Bulan di angkasa telah purnama raya sedangkan penanggalan baru mencatat tanggal satu hari bulan. b. Setiap tahunnya Bumi ini berada pada titik Perihelium orbitnya waktu mana harusnya dimulai tahun baru, tetapi penanggalan yang berlaku telah menunjukkan pertengahan tahun atau sebagainya. c. Kalau dimisalkan pada tanggal 1 Januari 1901 Bumi ini berada pada titik Perihelium orbitnya dan bintang-bintang di angkasa berada pada posisi yang ditandai, maka bintang-bintang itu akan berada kembali di tempat yang sama sesudah 15 tahun kemudiannya, yaitu tanggal 1 Januari 1916 malah Bumi tidak berada pada titik Perihelium orbitnya sebagai pada tanggal 1 Januan 1901. Orang dapat memperhitungkan bahwa kekurangan 4 derajat 48 menit x 15 (tahun) Sama dengan 360 derajat, hanya sayang bahwa itu adalah persamaan pandangan terhadap bintang di angkasa tapi bukanlah persamaan posisi Bumi sesudah 75 tahun. d. Kalau dulunya tahun Musim itu disusun oleh Julius Caesar benar-benar berdasarkan jangka waktu pergantian musim, bukan atas dasar kesadaran bahwa Bumi ini mengorbit keliling Surya karena waktu itu manusia masih menyangka bahwa Bumi ini adalah wujud terbesar di semesta raya dan Surya bersama bintang lain mengorbit keliling Bumi, maka alasan apakah bagi manusia kini untuk menyatakan bahwa penanggalan musim itu sesuai dengan jangka waktu orbit Bumi keliling Surya. Kenapa orang melupakan perubahan penanggalan yang dilakukan orang di masa Paus Georgerious tahun 1582. Kalau kebetulan penanggalan musim itu sama dengan jangka waktu orbit Bumi keliling Surya sebagai yang diperkirakan maka umumnya hal yang didapat cara kebetulan adalah di luar perhitungan begitu pula hal yang hanya dikira-kirakan pada umumnya tidak tepat sama dengan keadaan sebenarnya.

Menyiapkan Momentum

Tiap kali mentadabburi surah al-‘Ashr yang berjumlah 3 ayat itu, selalu menyisakan kekaguman yang luar biasa. Terlebih jika tiga ayat pendek-pendek itu dilihat dalam kacamata realitas sejarah jatuh bangun peradaban Islam. Seakan perkataan Imam Syafi’i terngiang kembali dengan segar. “Kalau umat manusia merenungkan surah ini, pastilah dia meliputi mereka (memadai).”
Yang menarik lagi ketiga ayat itu ada kaitannya dengan rumus Momentum dalam pelajaran Fisika yang saya pelajari ketika Aliyah dulu. Hasil perenungan ini menyimpulkan satu rumusan yang saya sebut dengan “fisika gerakan”. Surat ini menyibak rahasia besar kehebatan persaingan peradaban, yang satu sama lain tengah berjalan dalam prinsip hukum-Nya.
Bagaimanakah kaitan keduanya. Mari kita tadabburi terlebih dahulu surat al-Ashr. Surat ini berada dalam urutan ke-103, berjumlah tiga ayat, terletak di Juz ‘Amma, dan tergolong sebagai ayat-ayat Makkiyah.
Di ayat pertama Allah bersumpah dengan lafadz wal ‘ashri. Beberapa edisi Al-Qur’an Terjemah menerjemahkannya dengan kalimat: Demi Masa. Dalam buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal. 1041 disebutkan bahwa al-Ashr artinya ’zaman’. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa al-‘ashr berarti shalat ashar. Kuntowijoyo pernah menafsirkan surat ini dalam artikel panjang di sebuah harian nasional dengan istilah waktu ashar. Menurutnya, waktu ashar ini merujuk pada waktu sore. Dia bukan waktu siang sebab matahari akan tenggelam, dan bukan pula waktu malam, sebab rembulan pun belum muncul. Di saat-saat pergantian waktu itulah Allah bersumpah bahwa manusia saat itu dalam keadaan merugi, semuanya! Yang dikecualikan hanya mereka yang tergolong dalam empat golongan saja.
Konteks Peradaban
Dalam konteks peradaban, waktu ashar ini adalah waktu di mana sebuah peradaban tengah tergelincir ke Barat. Dan di Barat-lah matahari selalu tenggelam. Lalu mentari peradaban pun terbit kembali dari Timur di pagi hari. Di saat pagi inilah Allah bersumpah dua kali untuk dua waktu yang jaraknya amat berdekatan. Wal fajri (demi waktu fajar) dan wash-shubhi (demi waktu shubuh). Imam Ali pernah ditanya, apa sesuatu yang tidak bernyawa dan tidak berparu-paru tapi bernafas, beliau menjawab, wash-shubhi idza tanaffas (demi waktu subuh ketika dia bernafas). Lalu mengiringi matahari yang naik sepenggalan, Allah pun bersumpah kembali wadh-Dhuha (demi waktu dhuha). Ketika siang pun Allah bersumpah, wan-nahari idza tajalla (demi siang apabila terang benderang). Masuk sore hari, Allah bersumpah, wal-Ashri. Dan waktu malam, wallaili idza yaghsya (demi waktu malam apabila menutupi—cahaya siang). Begitulah pergiliran waktu yang di masing-masingnya Allah meletakkan sumpah-Nya yang Maha Besar. Dan, setiap peradaban akan melewati waktu-waktu yang telah diletakkan sumpah-Nya itu.
Ada apa dengan waktu ashar? Waktu ashar dalam konteks peradaban adalah detik-detik yang menentukan. Di waktu yang singkat ini jarang ada peradaban yang bisa bertahan. Masing-masing peradaban mengalami ketergelinciran menuju kegelapan malam yang menghanyutkan dan menghancurkan.
Beginilah faktanya, di pagi hari manusia dalam kesegarannya mereka bangkit menyiapkan berbagai pekerjaan yang produktif. Hingga jalan-jalan pun macet. Di siang hari, hasil jerih payah itu mencapai puncaknya. Masuk waktu sore, manusia-manusia peradaban itu pun kelelahan, pulang kerja, meletakkan seluruh pekerjaannya, dan mengambil aktivitas santai hingga malam menjelang. Lalu mereka mengambil tidur pulas pada waktu malam, hanya beberapa saja yang mempertahankan matanya tetap produktif.
Kejadian harian di atas berlaku juga pada perjalanan sebuah peradaban. Islam di awal risalah Muhammad saw. merupakan masa-masa menentukan produktivitas peradaban dengan gencarnya dakwah. Prestasi spiritual ini berhasil menjadi fondasi kegemilangan peradaban hingga abad pertengahan yang dijuluki kaum orientalis dengan fase the golden age (Masa Keemasan). Namun pergiliran pun tidak terlekakkan, perjalanan peradaban Islam memasuki waktu ashar, matahari peradaban saat itu bergulir ke Barat melalui Cordova, Spanyol, hingga mereka renaissance. Barat tercerahkan, Islam sendiri mengalami kebuntuan kreativitas, sebab pintu ijtihad telah ditutup. Masuklah malam. Peradaban Islam tidak lagi tergelincir melainkan tertidur. Ia terlelap kelelahan, dan hanya sedikit pahlawan yang bangun saat itu. Jika pun mereka teriak, tak ada suara yang menyahut. Senyap. Bahkan sepi. Inilah tragedi yang menyayat kemanusiaan. Di tengah kolonialisasi Barat dengan spirit merkalitilisme-nya, tidak ada satu pun kekuatan yang membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas. Apatah lagi umat Islam. Ia sudah porak poranda, terpecah-pecah dalam firqah-firqah, etno-nasionalizm, dan sebagiannya terjual menjadi antek-antek penjajah. Berbagai upaya kebangkitan para pahlawan telah pun dilakukan, namun umat tidur nyenyak. Ia hanyut dalam perdebatan usholli, qunut, tawashul, dan berbagai persoalan furu’iyah lainnya.
Kegetiran sejarah yang sedemikian, menyisakan sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab dengan jujur. Apakah saat ini kita masih di malam hari? Ataukah mungkin masih tersangkut di sore hari? Saya kira tidak di keduanya. Pertumbuhan harakah-harakah Islamiyah di masa kini amat menggembirakan. Kesadaran berislam telah pun bersemi dari bawah, walau pola pemerintahannya masih warisan para penjajah terdahulu. Geliat kapitalisme global pun telah memporakporandakan bangsa-bangsa yang beretika itu menjadi liberal, bahkan sangat liberal. Namun di tengah-tengah kegelapan ini, Allah menjanjikan Islam akan datang segera menggiring umat manusia pada cahaya-Nya melalui para mujadid yang telah diutus-Nya di waktu fajar kebangkitan. Itu artinya masa kita saat ini berada di waktu kedua, subuh hari. Subuh itu, seperti dikatakan Imam Ali, adalah waktunya bernafas, menghirup berbagai inspirasi kebangkitan, mengeratkan berbagai komponen pendukung, dan menyiapkan berbagai energi kekuatan kebangkitan hingga terjadilah momentum perubahan yang Allah janjikan di masa depan kelak.
Layastakhlifannahum fil alardh…
Rumus Momentum
Lantas apa kaitannya dengan rumus Momentum? Elaborasi di atas menjelaskan fase-fase perjalanan peradaban Islam dari era kebangkitan yang dibangkitkan oleh Nabi Muhammad saw.—setelah jatuh bangun peradaban Islam yang dilalui oleh para nabi sebelumnya—hingga fase kini di era kebangkitan jilid kedua. Rumus Momentum itu diperlukan dalam kerangka menciptakan momentum baru menyingkap embun pagi menuju masa-masa produktivitas menyambut kejayaan yang dijanjikan Allah. Satu keyakinan saya, bahwa momentum itu, selain ia hadir karena pergesekan realitas berbagai sejarah besar, juga sebenarnya momentum dapat diciptakan (dengan Izin Allah, tentunya). Momentum apa pun yang ingin kita ciptakan, rumusannya sama. Dan ia harus mengikuti ketentuan kauniyah-Nya, yakni massa dikali kecepatan. Atau kawan dari fisika menyederhanakannya begini: m x v.
Mari kita terjemahkan rumusan fisika di atas ke dalam bahasa pergerakan sosial. Bahwa yang disebut dengan massa adalah masyarakat, umat, atau aktivis pergerakan itu sendiri. Sedangkan kecepatan adalah upaya dan tindakan terjadinya berbagai akselerasi perubahan.
Mengikuti rumusan di atas, jika kita ingin menciptakan momentum, maka rumusnya adalah perbanyaklah kuantitas massa kita bersamaan dengan itu perbesarlah tingkat akselerasi kita dalam banyak hal.
Perlu diperhatikan. Rumus Momentum bukanlah massa ditambah kecepatan melainkan dikalikan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang aktivis bukan ditambah dengan satuan aktivis lainnya, melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan dua orang—digandakan berlipat ganda dalam sebuah sistem pergerakan yang akseleratif. Maka dalam sebuah pergerakan mahasiswa, sistem pengkaderan perlu dirancang secara heroik (psikomotorik), menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi (afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) mereka pada persoalan dan kemampuannya menjadi problem solver, bukan sekedar problem speaker, atau malah problem maker. Kerja-kerja ini juga tidak akan berhasil jika tidak ditopang dengan sistem gerakan yang terpadu di semua aspeknya, baik dari sisi tata keorganisasian, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekedar cepat bersikap), kemampuan menjaring relasi perubahan, dan daya dukung lainnya secara operasional.
Dalam konteks KAMMI, kaderisasi diposisikan bukan sebagai kewajiban pengurus atau pun hak kader. Di atas itu semua, kesadaran akan kemenangan peradaban masa depan di tangan Islam, pengkaderan adalah kultur gerakan, yang berarti pekerjaan mengkader adalah mentalitas kader dan pengurus itu sendiri. Masing-masing mereka adalah orang-orang pembelajar dan secara terbuka terbiasa menularkan kemampuannya pada yang lainnya. Mereka pegiat di lapangan, kokoh secara akhlak dan valid secara konsepsional.
Rancangan gerakan dengan spirit Menuju Muslim Negarawan adalah tantangan kita semua untuk menciptakan momentum baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Seperti apakah bentuk konkritnya kelak, ia hanya akan dicapai bentuknya oleh rumusan tadi: kuantitas banyaknya kader-kader terbaik yang akseleratif dan progresif dalam mempelajari berbagai hal secara terpadu dan terinterkoneksi satu sama lainnya. Allahu a’lam

ASPEK POLITIK

BAB V

ASPEK POLITIK

Persoalan yang pertama-tama timbul dalam Islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan malahan persoalan politik.

Sewaktu Nabi mulai menyiarkan agama Islam di Mekkah beliau belum dapat membentuk suatu masyarakat yang kuat lagi berdiri sendiri. Umat Islam diwaktu itu baru dalam kedudukan lemah, tidak sanggup menentang kekuasaan yang dipegang kaum pedagang Quraisy yang ada di Mekkah. Akhirnya Nabi bersama Sahabat dan umat Islam lainnya, seperti diketahui, terpaksa meninggalkan kota ini dan pindah ke Yasrib, yang kemudian terkenal dengan nama Medinah, yaitu Kota Nabi.

Di kota ini keadaan Nabi dan Umat Islam mengalami perobahan yang besar. Kalau di Mekkah mereka sebelumnya merupak umat lemah yang tertindas, di Medinah mereka mempunyai kedudukan yang baik dan segera merupakan umat yang kuat d dapat berdiri sendiri. Nabi sendiri menjadi kepala dalam masyarak yang baru dibentuk itu dan yang akhirnya merupakan suatu nega suatu negara yang daerah kekuasaannya diakhir zaman Nabi meliputi seluruh Semenanjung Arabia. Dengan kata lain di Medinah Nabi Muhammad bukan lagi hanya mempunyai sifat Rasul Allah tetapi juga mempunyai sifat Kepala Negara.

Jadi sesudah beliau wafat, beliau mesti diganti oleh orang lain untuk memimpin negara yang beliau tinggalkan. Dalam kedudukan beliau sebagai Rasul, beliau tentu tak dapat diganti. Sebagaimana diketahui dari sejarah pengganti beliau yang pertama ialah Abu Bakr. Abu Bakr menjadi Kepala Negara yang ada pada waktu itu dengan memakai gelar Khalifah, yang arti lafzinya ialah Pengganti (Inggeris : Successor). Kemudian setelah Abu Bakar wafat, Umar Ibn Al-Khattab menggantikan beliau sebagai Khalifah yang kedua. Usman Ibn Affan selanjutnya menjadi Khalifah yang ketiga dan pada pemerintahannyalah mulai timbul persoalan-persoalan politik. Ahli sejarah menggambarkan Usman sebagai orang lemah dan tak kuat untuk menentang ambisi kaum keluarganya yang kaya dan berpengaruh dalam masyarakat Arab pada waktu itu. la mengangkati mereka menjadi Gubernur-gubernur di daerah-daerah yang tunduk kepada kekuasaan Islam.

Gubernur-gubernur yang diangkat oleh Umar, Khalifah yang dikenal sebagai orang kuat dan tidak memikirkan kepentingan sendiri atau kepentingan keluarganya dijatuhkan oleh Usman. Politik nepotisme ini menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi kedudukan Usman sebagai Khalifah. Sahabat-sahabat Nabi yang pada mulanya menyokong Usman, akhirnya berpaling. Orang-orang yang ingin menjadi Khalifah atau orang-orang yang ingin calonnya menjadi Khalifah mulai pula menangguk di air keruh yang timbul itu. Di daerah-daerah timbul perasaan tidak senang. Di Mesir Amr Ibn Al-Aas dijatuhkan sebagai Gubernur dan diganti dengan Ibn Abi Sarh, salah seorang dari anggauta keluarga Usman. Sebagai reaksi terhadap keadaan ini, lima ratus pemberontak bergerak dari Mesir merruju Medinah. Perkembangan suasana di Medinah selanjutnya membawa pada pembunuhan Usman oleh pemuka-pemuka pemberontak dari Mesir itu.

Setelah Usman wafat, Ali Ibn Abi Talib, sebagai calon terkuat, menjadi Khalifah yang ke-empat. Tetapi segera ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi Khalifah, terutama Talhah dan Zubeir dari Mekkah yang mendapat sokongan dari Aisyah. Dalam peperangan yang terjadi Talhah dan Zubeir mati terbunuh, sedang Aisyah dikirim kembali ke Mekkah.

Tantangan kedua datang dari Mu’awiah, gubernur Damaskus dan anggauta keluarga yang terdekat dengan Usman Ibn Affan: Mu’awiah juga tidak mengakui Ali sebagai Khalifah bahkan ia menuduh Ali turut campur tangan dalam soal pembunuhan Usman, karena salah satu dari pemuka pemberontak, Muhammad, adalal anak angkat Ali. Antara kedua golongan akhirnya terjadi peperangan di Siffin, Irak. Tentara Ali dapat mendesak tentara Mu’awiah sehingga yang tersebut akhir ini telah bersedia untuk lari. Tetapi tangan kanan Mu’awiah, Amr Ibn Al-Aas, yang terkenal sebagai orang licik minta berdamai dengan mengangkatkan Al-Qur-an ke atas. Imam-Imam yang ada dipihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawarar itu dan dengan demikian dicarilah perdamaaan dengan mengadakan hakam yaitu arbitrase. Sebagai pengantara diangkat dua orang : Amr Ibn Al-Aas dari pihak Mu’awiah dan Abu Musa Al Asy’aru.dari pihak Ali.

Dalam pertemuan mereka berdua, kelicikan Amr mengalahkan perasaan takwa Abu Musa. Sejarah mengatakan bahwa antara keduanya terdapat permufakatan untuk menjatuhkan Ali dan Mu’awiah Dan tradisi menyebut bahwa Abu Musa sebagai yang tertua, berbicara lebih
dahulu dan mengumumkan kepada orang ramai putusar menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Tetapi Amr, yang berbicara kemudian mengumumkan hanya menyetujui untuk menjatuhkan Ali sebagai telah dijelaskan Abu Musa dan menolak untuk menjatuhkan
Mu’awiah. Peristiwa ini merugikan bagi Ali dan menguntungkan bagi Mu’awiah. Mu’awiah yang pada mulanya hanya berkedudukan Gubernur kini telah naik derajatnya menjadi Khalifah yang tidak resmi. Tidak mengherankan kalau putusan ini tidak diterima Ali dan tak mau meletakkan jabatan sehingga ia mati terbunuh di tahun 661 M. Tetapi ia tidak dapat lagi melawan Mu’awiah, bukan hanya karena telah mempunyai saingan dalam kedudukannya sebagai Khalifah, tetapi juga karena kekuatan militernya telah pula menjadi lemah.

Keadaan Ali menerima tipu muslihat Amr mengadakan arbitrase sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian dari tentaranya. Tentara ini mengasingkan diri dan ke luar dari barisan Ali. Mereka terkanal dalam sejarah dengan nama Khawarij, itu orang-orang yang keluar. Mereka mengatur barisan mereka dan selanjutnya menentang Ali. Antara Ali dan mereka terjadi peperangan. Dalam peperangan itu kaum Khawarij kalah, tetapi tentara Ali telah terlalu lemah untuk dapat meneruskan peperangan melawan Mu’awiah. Mu’awiah tetap berkuasa di Damaskus dan setelah ifatnya Ali ia dengan mudah dapat memperkuat kedudukannya bagai Khalifah di tahun 4661 M.

Dari sejarah ringkas di atas dapat dilihat bahwa pada waktu itu telah timbul-tiga golongan politik, golongan Ali yang kemudian dikenal dengan nama Syi’ah, golongan yang keIuar dari barisan Ali yaitu. Kaum Khawarij dan golongan Mu’awiyah, yang kemudian membentuk Dinasti Bani Ummayah dan membawa sistem kerajaan dalam Islam.

Perlu dijelaskan bahwa khalifah (pemerintahan); yang timbul sesudah wafatnya Nabi Muhammad, tidak mempunyai bentuk kerajaan; tetapi lebih dekat merupakan republic, dalam arti, Kepala negara dipilih dan tidak mempunyai sifat turun temurun. Sebagai diketahui Khalifah pertama adalah Abu Bakar dan beliau tidak mempunyai hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Khalifah kedua, Umar ibn Al-Khattab, juga tidak mempunyai hubungan darah dengan Abu Bakar, demikian pula Khalifah ketiga Usman Ibn Affan dan halifah keempat Ali Ibn Talib, satu sama lain tidak mempunyai ubungan darah. Mereka adalah sahabat Nabi dan dengan demikian hubungan mereka sesama mereka merupakan hubungan persahabatan.

Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah bukan atas tunjukan Nabi Muhammad, karena beliau wafat dengan tidak meninggalkan perintah ataupun pesan tentang pengganti beliau sebagai Kepala negara. Abu Bakar diangkat atas dasar permufakatan pemuka-pemuka Ansar dan Muhajirin dalam rapat Saqifah di Medinah. Pengangkatan itu kemudian mendapat persetujuan dan pengakuan mat, yang dalam istilah Arabnya disebut bay’ah.

Umar menjadi Khalifah kedua atas pencalonan Abu Bakar yang segera juga mendapat persetujuan umat. Penentuan Usman sebagai pengganti Umar dirundingkan dalam rapat Enam Sahabat. Usman juga segera mendapat bay’ah dari umat. Setelah Usman mati terbunuh, Allah merupakan calon terkuat untuk menjadi Khalifah keempat. Tetapi
bay’ah yang diterima Ali tidak lagi sebulat bay’ah yang diberikan umat kepada khalifah-khalifah sebelumnya. Khalifah Ali, sebagai dilihat di atas, mendapat tantangan dari Mu’awiah di Damaskus dan dari Talhah, Zubeir dan Aisyah di Mekkah.

Demikianlah ungkapan sejarah tentang pengangkatan sahabat-sahabat Nabi Muhammad itu menjadi Khalifah. Jelas bahwa cara pengangkatan Kepala Negara sebagai yang diungkapkan sejarah ini, bukanlah cara yang dipakai dalam sistem kerajaan. Cara itu lebih sesuai untuk dimasukkan ke dalam sistem pengangkatan Kepala Negara dalam pemerintahan demokrasi.

Dalam pada itu perlu ditegaskan bahwa menurut pendapat umum yang ada dizaman itu, seorang Khalifah haruslah berasal dari suku Quraisy. Pendapat ini didasarkan atas hadis yang membuat Quraisy mempunyai kedudukan lebih tinggi dari suku-suku Arab lainnya dan terutama hadis : Imam-imam adalah dari Quraisy ( ). Keempat Khalifah Besar memang orangorang ternama dari suku Quraisy dan demikian juga dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbas, semuanya berasal dari suku Nabi Muha.mmad itu. Pendapat ini kemudian menjadi teori ketatanegaraan yang dianut oleh Ahli Sunnah.

Kaum Khawarij tidak setuju dengan faham di atas. Menurut pendapat mereka khilafah (jabatan Kepala Negara) bukanlah hak monopoli dari suku Quraisy. Bagi mereka tidak ada perbedaan antara Quraisy dan suku-suku Arab lainnya, bahkan juga tidak antara Arab dan bukan Arab. Oleh karena itu dalam teori politik mereka; tiap orang Islam sekalipun ia bukan orang Arab, boleh menjadi Khalifah, asal saja ia mempunyai kesanggupan untuk itu.

Dan berlawanan dengan faham yang dibawa oleh Mu’awiah, khalifah bagi kaum Khawarij tidak mempunyai sifat turun-temurun dari bapak kepada turunannya. Dengan lain kata, mereka tidak setuju dengan sistem kerajaan. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa
Khalifah yang melanggar ajaran-ajaran agama wajib dijatuhkan, bahkan dibunuh.

Sementara itu, seorang pemuka Khawarij bernama Najdah Ibn Amr Al-Hanafi mempunyai faham bahwa Kepala Negara diperlukan hanya jika maslahat umat menghendaki yang demikian. pada hakekatnya, demikian Najdah, ummat tidak berhajat pada adanya Khalifah atau Imam untuk memimpin mereka. Dalam hal ini, ia sebenarnya dekat dengan faham komunis yang mengatakan bahwa negara akan hilang dengan sendirinya dalam masyarakat komunis.

Kaum Khawarij dalam sejarah pecah menjadi beberapa kelompok, tetapi perbedaan faham mereka berkisar sekitar masalahmasalah teologi. Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut dalam pembahasan aspek teologi.

Tetapi bagaimanapun, teori politik mereka bersifat lebih demokratis dari teori-teori politik yang dianut oleh golongan-golongan politik Islam lain dizaman itu.

Kaum Syi’ah, berlainan dengan kaum Khawarij, berpendapat bahwa jabatan Kepala Negara bukanlah hak tiap orang Islam, bahkan pula tidak hak setiap orarag Quraisy, sebagai tersebut dalam teori yang kemudian dianut oleh Ahli Sunnah itu. Dalam faham kaum Syi’ah imamah (jabatan Kepala Negara) adalah hak monopoli Ali Ibn Abi Talib dan keturunannya. Perlu ditegaskan bahwa nama yang dipakai golongan Syi’ah untuk Kepala Negara adalah Imam.

Sesuai dengan faham yang dibawa oleh Mu’awiah, imamah dalam teori Syi’ah mempunyai bentuk kerajaan dan turun-temurun dari bapak ke anak, seterusnya ke cucu dan demikian selanjutnya. Semestinya yang menggantikan Nabi Muhammad sebagai Kepala Negara dalam faham Syi’ah, adalah anak beliau. Tetapi karena beliau tak mempunyai anak laki-laki yang hidup, jabatan itu seharusnya pergi ke anggota keluarga beliau yang terdekat.

Ali Ibn Abi Talib, adalah anak paman beliau dan yang terpenting lagi adalah pula menantu beliau. Oleh karena itu, Ali-lah anggota keluarga Nabi yang terdekat. Dengan demikian, yang menggantikan Nabi Muhammad sebagai Kepala Negara seharusnyalah Ali, dan seterusnya anak-anak serta cucu-cucunya dan bukan Abu Bakar, Umar, Usman, Bani Umayyah dan Bani Abbas. Oleh sebab itu khilafah Abu Bakar, Umar dan Usman tidak diakui oleh kebanyakan kaum Syi’ah dandemikian juga pemerintahan Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbas.

Dalam sejarah mereka memang menentang Dinasti Bani Umayyah dan aktif bekerja sama dengan Bani Abbas dalam menjatuhkan Kerajaan yang dibentuk Mu’awiah itu. Tetapi setelah ternyata bahwa Bani Abbas memonopoli kekuasaan untuk mereka sendiri dan kemudian membentuk Dinasti Bani Abbas, kaum Syi’ah mengambil sikap melawan terhadap mereka. Perlawanan itu menjelma dalam bentuk gerakan-gerakan seperti yang dijalankan golongan Qaramitah, Hasysyasyin, dan sebagainya. Gerakan mereka akhirnya mewujudkan khilafah Syi’ah di Mesir, yaitu khilafah Fatimiah (969 – 1171 M) dan kerajaan Syi’ah di Iran semenjak tahun 1502 M.

Dalam pada itu, kaum Syi’ah juga pecah ke dalam beberapa golongan. Yang terbesar ialah golongan Syi’ah Dua belas ( ). Mereka disebut Syi’ah Duabelas karena mereka mempunyai duabelas Imam Nyata ( ). Imam Pertama sudah barang tentu Ali Ibn Abi Talib sedang Imam Keduabelas adalah Muhammad Al- Muntazar.

Pada Muhammad Al-Muntazar berhenti rangkaian Imam-imam Nyata, karena Muhammad tidak meninggalkan keturunan. Muhammad, sewaktu masih kecil, hilang di dalam gua yang terdapat di Mesjid Samarra (Iraq). Menurut keyakinan kaum Syi’ah Duabelas. Imam ini
menghilang baut sementara dan akan kembali lagi sebagai Al-Mahdi untuk langsung memimpin umat. Oleh karena itu ia disebut Imam Bersembunyi ( ) atau Imam Dinanti,
( ). Selama bersembunyi ia memimpin umat melalui Raja-raja yang memegang kekuasaan dan ulama-ulama mujtahid Syi’ah.
Syi’ah Duabelas menjadi faham resmi di Iran semenjak permulaan abad ke-enambelas, yaitu setelah faham itu dibawa ke sana oleh Syi’ah Ismail.

Di samping Syi’ah Duabelas ada pula Syi’ah Ismailiah. Imam-imam mereka sampai dengan Imam Keenam masih sama dengan – Imam-imam Syi’ah Duabelas. Perbedaan mulai timbul pada Imam Ketujuh. Ismail, anak dari Ja’far Al-Sadiq, lebih dahulu meninggal dunia dari pada Imam Keenam ini. Oleh karena itu, tempat Ismail sebagai Imam Ketujuh diganti oleh adiknya Musa AI-Kazim. Faham inilah yang dianut oleh Syi’ah Duabelas. Tetapi sebagian lain dari kaum Syi’ah tidak setuju dengan pengangkatan itu dan tetap setia pada Ismail,
sungguhpun ia telah meninggal dunia. Bagi mereka Ismailla Imam Ketujuh dan bukan Musa Al-Kazim. Karena mengakui hanya tujuh Imam Nyata, Syi’ah Ismaili, ini juga disebut Syi’ah Tujuh, sungguhpun pada akhirnya tidak semua berpegang teguh pada faham ini.

Khalifah-khalifah Fatimi di Mesir, golongan Qaramitah, Hassyasyin, kaum Ismaili di India, Pakistan dan Iran, dan kaum Duruz di Lebanon dan Syiria termasuk dalam golongan Syi’ah Ismailia. Selanjutnya ada lagi Syi’ah Zaidiah, yaitu pengikut Zaid Ibn Ali Zain Al-Abidin. Berlainan dengan Syi’ah Duabelas dan Syi’ah Ismailiah mereka tidak menganut teori Imam Bersembunyi. Imam harus langsung memimpin umat. Jabatan Imam harus berasal dari
keturunan Ali dan Fatimah. Demikian faham mereka.

Syi’ah Zaidiah dalam sejarah membentuk kerajaan di Yaman dengan San’a sebagai ibu kota. Beberapa tahun yang lalu bentuk kerajaan ini dirobah menjadi republik, setelah terjadinya revolusi di negara itu.

Di samping ketiga golongan besar ini, masih ada golongangolongan kecil seperti Syi’ah Saba’iah, pengikut Abdullah Ibn Saba’, Syi’ah Al-Ghurabiah, Syi’ah Kisaniah, pengikut Al-Mukhtar Ibn Ubaid Al-Tsaqafi dan Syi’ah Al-Rafidah.

Sebelum melanjutkan uraian, ada baiknya disimpulkan dahulu yang telah diterangkan di atas.

Teori politik yang pertama timbul dari perkembangan politik ini terjadi dalam sejarah Islam ialah mengenai jabatan Kepala Negara. Di zaman Nabi Muhammad jabatan itu mempunyai bentuk yang unik. Beliau, sebagai Rasul yang diutus Tuhan, membawi ajaran-ajaran yang bukan hanya bersangkutan dengan hidup kerohanian tetapi juga ajaran-ajaran mengenai hidup keduniaan manusia. Oleh karena itu Nabi mempunyai kedudukan, bukan hanya sebagai Kepala Agama, tetapi juga sebagai Kepala Negara. Dengan lain kata, alam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spirituil dan kekuasaan sekuler. Beliau menjadi Kepala Negara bukanlah atas penunjukan dan pula bukan atas dasar hak turun-temurun. Beliau sebagai Rasul secara otomatis menjadi Kepala Negara.

Siapa yang berhak menjadi Kepala Negara sebagai pengganti beliau dan bagaimana cara pengangkatannya, itulah yang menimbulkan perbedaan faham di bidang politik dalam Islam. Sebagaimana dilihat kaum Khawarij berpendapat bahwa yang berhak untuk menjadi Kepala Negara ialah semua orang Islam dan cara penentuan dan mengangkatan ialah pemilihan. Syi’ah, sebaliknya, berpendapat bahwa hanya keturunan Ali yang berhak menjadi Kepala Negara dan hak itu bersifat turun-temurun. Ahli Sunnah berpendapat bahwa hak itu dimiliki oleh suku Quraisy dan pengangkatannya ialah melalui pemilihan. Tetapi di samping itu ada pula yang menyetujui penentuan melalui keturunan.

Sementara itu timbul pula perbedaan faham tentang sifat dan kekuasaan Kepala negara. Syi’ah Duabelas dan Syi’ah Fatimiah berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad, sebelum beliau wafat, telah menentukan Ali sebagai penggantinya. Dalam istilah Syi’ah. Ali adalah wasi ( ) Nabi Muhammad, yaitu pengganti yang kepadaya dilimpahkan Nabi sepenuh kepercayaan. Wasi sesudah Ali adalah Hasan, kemudian Husein dan seterusnya cucu-cucu Nabi.

Imam mempunyai sifat kekudusan yang diwarisi dari Nabi, dalam arti Ali menerima waris itu dari Nabi, Hasan dan Husein dari Ali, Ali Zainal Abidin dari Husein dan demikianlah seterusnya oleh cucu-cucu beliau. Di samping itu Imam mempunyai kekuasaan untuk membuat hukum. Perbuatan-perbuatan serta ucapan-ucapan Imam tidak bisa bertentangan dengan syariat. Dengan demikian bagi kaum Syi’ah, Imam hampir sama sifat dan kekuasaannya dengan sifat dan kekuasaan Nabi.Imam dan Nabi sama-sama tak dapat berbuat salah dan sama-sama dapat membuat hukum. Perbedaan terletak dalam keadaan Nabi menerima wahyu sedang Imam tidak.

Faham-faham di atas sama-sama dianut oleh Syi’ah Duabelas dan Syi’ah Ismailiah. Tetapi di antara golongan Ismailiah ada yang membawa faham-faham itu bersifat ekstrim. Sehubungan dengan kesucian Imam dari perbuatan salah, mereka umpamanya berpendapat bahwa sungguhpun Imam melakukan perbuatan salah, perbuatannya itu sebenarnya tidak salah. Dengan lain kata perbuatan yang bagi manusia biasa merupakan perbuatan salah, bagi Imam, itu tidak merupakan perbuatan salah. Imam mempunyai ilmu batin, dan dengan ilmu batin itu ia mengetahui hal-hal yang tak dapat diketahui manusia biasa. Apa yang salah dalam pandangan manusia biasa, tidak mesti salah dalam pandangan Imam. Ada lagi yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri Imam, dan oleh karena itu Imam disembah. Khalifah Fatimi Al-Hakim lbn Amrillah berkeyakinan bahwa dalam dirinya terdapat Tuhan, dan oleh karena itu memaksa rakyat supaya menyembahnya.

Syi’ah Zaidiah, berlainan dengan Syi’ah Duabelas dan Syi’ah Ismailiah berpendapat bahwa Imam tidaklah ditentukan Nabi orangnya, tetapi hanya sifat-sifatnya. Tegasnya Nabi tidak mengatakan bahwa Ali-lah yang akan menjadi Imam sesudah beliau wafat, tetapi Nabi hanya menyebut sifat-sifat Imam yang akan menggantikan beliau. Ali diangkat menjadi Imam, karena sifat-sifat itu terdapat dalam dirinya. Di antara sifat-sifat yang dimaksud ialah takwa, ilmu, kemurahan hati dan keberanian dan untuk Imam sesudah Ali ditambahkan sifat keturunan Fatimah.

Sifat-sifat tersebut adalah sifat bagi Imam terbaik ( ), Tetapi dalam pada itu pemuka yang tidak mencapai sifat terbaik boleh juga menjadi Imam. Kalau yang pertama disebut Imam afdal yang kedua disebut Imam mafdul ( ). Oleh karena itu Syi’ah Zaidiah dapat mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka diakui sebagai Imam-Imam mafdul dan bukan Imam-imam afdal.

Di samping yang tersebut di atas ada lagi faham-faham yang iajukan oleh Syi’ah ekstrim ( ) tentang sifat Ali. Al Saba’iah menganggap Ali Tuhan dan tidak mati terbunuh, tetapi naik ke langit. Al-Ghurabiah mengatakan bahwa wahyu sebenarnya urunkan untuk Ali, tetapi Jibril salah dalam rnenganggap Mu.nmad adalah Ali. A1- Nusairiah juga berpendapat bahwa Ali adalah Tuhan, atau sekurangkurangnya dekat menyerupai Tuhan. Golongan Syi’ah ekstrim serupa ini tidak diakui oleh golongan Syi’ah lainnya.

Ahli Sunnah tidak menerima faham-faham tersebut di atas. Bagi mereka Ali dan keturunannya adalah manusia biasa, sama dengan ABu Bakar, Umar, Usman dan lain-lain. Oleh karena itu Jabatan Kepala Negara dalam teori mereka tidak dikhususkan untuk Ali dan keturunannya dan kalaupun dikhususkan hanya untuk suku Quraisy.

Sementara itu Ahli Sunnah membahas soal khalifah dari aspekaspek lain. Pembahasan serupa itu dijumpai dalam buku-buku ilmu kalam atau buku-buku yang khusus membahas soal ketatagaraan dalam Islam, seperti, Al-Ahkam Al-Sultaniah, karangan Al-Mawardi.

Menurut Al-Mawardi syarat-syarat yang diperlukan untuk menjadi Khalifah atau Imam, selain kesukuan Quraisy antara lain adalah sifat-sifat adil, berilmu, sanggup mengadakan ijtihad, sehat mental dan fisik, berani dan tegas. Imam dipilih oleh orang-orang yang berhak untuk memilih ( ). Sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi pemilih adalah adil, mengetahui syarat-syarat yang diperlukan untuk menjadi Khalifah, dan kesanggupan untuk menentukan dengan bijaksana siapa yang berhak untuk menjadi Kalifah di antara calon-calan yang ada. Pemilih-pemilih itu disebut ahl al hal waal aqad ( ) yaitu orang-orang yang dapat menentukan. Dengan mendapat bay’ah (pengakuan). Khalifah sebenarnya telah mengikat janji (kontrak) dengan umat. Dari pihak nya perjanjian itu merupakan janji yang mengandung arti bahwa ia akan menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan tulus ikhlas, dan dari pihak umat, itu mengandung arti bahwa mereka akan patuh pada Khalifah. Tetapi kepatuhan umat kepadanya akan hilang kalau sifat-sifat yang membuatnya berhak menjadi Khalifah hilang pula, umpamanya sifat keadilan hilang, atau kesehatan mental atau fisik
rusak, demikianlah seterusnya. Khalifah dapat diganti, kalau ia ditangkap menjadi tawanan, atau kekuasaannya dirampas oleh seorang Sultan atau Amir, dan Khalifah dengan demikian kehilangan kemerdekaan. Adanya dua Khalifah dalam suatu Negara tidak boleh. Demikian sebahagian dari teori-teori politik yang dimajukan oleh Al- Mawardi.

Al-Ghazali, berlainan dengan kaum Khawarij, berpendapat, bahwa Khalifah tidak dapat dijatuhkan, walaupun Khalifah yang zalim. Menggulingkan Khalifah yang zalim tapi kuat, akan membawa kekacauan dan pembunuhan dalam masyarakat. Al-Ghazali mementingkan ketertiban dalam masyarakat. Khalifah dapat menyerahkan kekuasaan untuk memerintah kepada Sultan yang berkuasa. Dalam sejarah Dinasti Bani Abbas memang terdapat Sultan sultan yang berkuasa di samping Khalifah-khalifah yang lemah. Sebagai dilihat di atas, tidak jarang bahwa Khalifah hanya merupakan boneka dalam tangan Sultan.

Ibn Jama’a sama dengan Al-Ghazali, lebih mengutamakan ketertiban dalam masyarakat daripada pemerintahan yang zalim. Patuh kepada kekuasaan adalah kewajiban yang diharuskan agama. Penentuan pengganti oleh seorang Khalifah, dalam pendapat Ibn Jama’a, merupakan salah satu bentuk pemilihan.

Selain dari kaum teolog, kaum filosof Islam juga membahas soal politik dalam Islam. Al-Farabi umpamanya, meninggalkan buku bernama AI-Madinah AI-Fadilah ( ) Negara Terbaik. Di dalamnya ia menguraikan bahwa negara terbaik ialah negara yang dikepalai seorang Rasul. Tetapi karena zaman Rasul-rasul telah selesai, maka negara terbaik kelas dua ialah negara yang dikepalai oleh seorang filosof. Dalam pemikiran politiknya, Al-Farabi banyak dipengaruhi oleh filosof Yunani, Plato.

Ibnu Sina juga berpendapat bahwa negara terbaik adalah negara yang dipimpin Rasul dan sesudah itu negara yang dipimpin filosof, Khalifah harus orang yang ahli dalam soal hukum (Syari’ah) mementingkan soal spirituil dan moral rakyat, dan mesti bersikap adil. Ia harus membawa umat kepada kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Cuplikan…

PROSENTASE SHOLAT DALAM HIDUP MANUSIA

Sholat merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seorang muslim, disamping merupakan kewajiban, sholat juga merupakan kebutuhan yang baca selengkapnya